Menjauhkan Hati Dari Dosa

Menjauhkan Hati Dari Dosa

Setiap orang yang memiliki hati dan akal sehat pasti akan berhati-hati terhadap akibat dari perbuatan maksiat dan dosa, karena keduanya merupakan racun yang bisa membinasakan dan memiliki pengaruh buruk dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Sementara tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin dirinya celaka, apalagi jika penderitaan yang akan ditanggungnya itu dalam waktu yang sangat lama atau bahkan berujung di neraka.
.
Diantara sebab yang bisa menghilangkan ketergantungan hati dengan dosa, yaitu:
1. Mempelajari ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya
Ketahuilah, bahwa diantara dosa itu ada yang disebabkan oleh kelalaian atau dorongan hawa nafsu. jika disebabkan oleh kelalaian maka penawarnya adalah ilmu. Orang yang bertaubat dan mau memperbaiki dirinya, maka hendaknya dia meniti jalan hidayah (petunjuk) yaitu mempelajar ilmu syar’i. Dosa itu disebabkan oleh dorongan hawa nafsu, maka penyembuhnya adalah sabar dalam mengekang tuntutan hawa nafsu dan mengharap pahala dari Allah.
2. Berpegang teguh dengan agama Allah
Orang yang berpegang teguh dengan (agama) Allah, dan kembali kepada-Nya dalam setiap keadaannya, maka Allah akan menolongnya dan memenangkannya dalam menghadapi dua musuh yang tidak pernah lepas darinya. Dua musuh tersebut adalah nafsunya dan syaitan.
Allah berfirman: Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Ali Imran: 101)
3. Menumbuhkan rasa takut terhadap Efek buruk dari dosa di dunia
Orang yang ingin melepaskan dirinya dari ketergantungan hatinya terhadap dosa, hendaknya dia menumbuhkan rasa takut di hatinya. Yaitu takut terkena dampak buruk dari dosanya di dunia. Seorang hamba yang terhalang dari rezekinya, bisa jadi itu disebabkan oleh dosa yang dia perbuat. Dia mestinya takut akan tertimpa penyakit dan kemiskinan bila dia terus menerus bermaksiat.
4. Mengingat Kematian yang dating dengan cepat
Allah berfirman: Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (Maryam:39)
.
Salam Hangat, Fayda Team

Seperti apakah shalat semalah suntuk?

Seperti apakah shalat semalah suntuk?

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.” (HR. Muslim)
.
Dalam riwayat Tirmidzi, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.” (HR. Tirmidzi)
.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang munafik daripada shalat Shubuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya, pasti mereka mendatanginya walaupun dalam keadaan merangkak.” (Muttafaqun ‘alaihi). (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Sifat Orang munafik disebutkan dalam QS. An-Nissa: 142, yang artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
.
Apa akibatnya malas bangun shubuh?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari dan Muslim) Wallahu’alam.
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: rumaysho.com

“Bolehkah Suami Menikmati Penghasilan Istri?”

Tanggung jawab terbesar suami yang menjadi hak istri adalah memberikan nafkah. Allah SWT berfirman: “Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (QS. Al-Baqarah:233)
.
Nafkah yang diberikan suami kepada istrinya, merupakan ibadah terbesar suami terhadap keluarganya. Karena memberikan nafkah keluarga merupakan beban kewajiban syariat untuk para suami. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Semua nafkah yang engkau berikan, itu bernilai sedekah. Hingga suapan yang engkau ulurkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Dari setiap penghasilan yang diperoleh suami, di sana ada jatah nafkah istri yang harus ditunaikan. Ini berbeda dengan harta istri. Allah menegaskan bahwa harta itu murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri
.
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4)
.
Ayat di atas menjelaskan bahwa suami boleh mengambil harta istri jika disertai kerelaan hati. Dan kerelaan hati itu lebih dari sebatas izin. Karena terkadang ada wanita yang dia menghibahkan atau menghadiahkan hartanya atau semacamnya, disebabkan tekanan suami kepadanya. Sehingga diberikan tanpa kerelaan. Disimpulkan dari sini, bahwa yang menjadi acuan tentang halalnya harta istri adalah adanya kerelaan hati
.
Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: konsultasisyariah.com
“Pahala Melimpah bagi Muslimah yang tinggal dirumah”

“Pahala Melimpah bagi Muslimah yang tinggal dirumah”

Di antara perintah Allah kepada wanita muslimah adalah perintah untuk tinggal dan menetap di rumah-rumah mereka. Sebuah perintah yang banyak mengandung hikmah dan maslahat. Tidak hanya bagi wanita itu sendiri, namun juga mengandung kemaslahatan bagi umat.
.
Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).
.
Dengan berdiam di rumah, bukan berarti wanita tidak  bisa melaksanakan aktifitas ibadah. Banyak ibadah yang bisa dilakukan di rumah seperti shalat, puasa, membaca Al Qur’an, berdizkir, dan ibadah-ibadah lainnya. Bahkan Sebaik-baik shalat bagi wanita adalah di rumahnya. Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad)
.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan bahwa makna ayat di atas artinya tetaplah di rumah-rumah kalian dan janganlah keluar tanpa ada kebutuhan.
.
Termasuk kebutuhan syar’I yang membolehkan wanita keluar rumah adalah untuk sholat di masjid dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Janganlah kalian melarang istri-istri dan anak anak kalian dari masjid Allah. Namun hendaklah mereka keluar dakam keadaan berjilbab.
.
Saudariku, perhatikanlah. Perintah untuk tinggal di dalam rumah ini datang dari Dzat yang maha memiliki hikmah, Dzat yang lebih tahu tentang perkara yang memberikan maslahat bagi hamba hambanya.
.
Ketika dia menetapkan wanita harus berdiam dan tinggal dirumahnya, Dia sama sekali tidak berbuat zalim kepada wanita, bahkan ketetapannya itu sebagai tanda akan kasih sayang Allah, kepada hambanya. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://muslim.or.id

“Sedekahkan seluruh persendian kita dengan Sholat Dhuha”

“Sedekahkan seluruh persendian kita dengan Sholat Dhuha”

Setiap orang pasti senang untuk melakukan amalan sedekah. Bahkan kita pun diperintahkan setiap harinya untuk bersedekah dengan seluruh persendian. Ternyata ada suatu amalan yang bisa menggantikan amalan sedekah tersebut yaitu shalat dhuha.
.
Di antara keutamaannya, shalat Dhuha dapat menggantikah kewajiban sedekah seluruh persendian. Dari Abu Dzar, Nabi SAW bersabda: “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim)
.
Persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi SAW: Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim)
.
Kapan waktu pelaksanaan sholat dhuha?
1. Awal waktu yaitu setelah matahari terbit dan meninggi hingga setinggi tombak
Nabi SAW bersabda: “Kerjakan shalat shubuh kemudian tinggalkan shalat hingga matahari terbit, sampai matahari meninggi. Ketika matahari terbit, ia terbit di antara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud.” (HR. Muslim)
Kapan? Kira-kira 15 menit setelah matahari terbit.
2. Waktu terbaik yaitu dikerjakan di akhir waktu
Sedangkan waktu utama mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu, yaitu keadaan yang semakin panas. Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim) Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://rumaysho.com

“Tips menyimpan daging Qurban agar tahan lama”

“Tips menyimpan daging Qurban agar tahan lama”

TIPS MENYIMPAN DAGING QURBAN YANG BENAR:

(Agar tetap terjaga kualitasnya)

.

Bismillah … Sahabatku sekalian

Ini sedikit Tips dari dr. Nanung Danar Dono, Ph.D.

Dir. Halal Center

Fakultas Peternakan UGM
.

Simak dan ikuti ya…

  1. Sebelum disimpan, daging qurban jangan dicuci. Jika dicuci pakai air kran, kuman-kuman bisa masuk dan tinggal di dalam pori-pori daging. Itu bisa merusak kualitas daging. Nyucinya kalo pas mau dimasak saja.
  2. Jika dapat daging banyak, jangan menyimpan daging utuh 2-4 kg di dalam freezer. Cara yg benar, potong daging kecil-kecil, lalu simpan di dalam plastik-plastik berukuran 1/2 kg atau 1 kg. Jika mau masak, ambil satu kantong kecil, biarkan yg lain tetap beku di dalam freezer. Kalo kayak gini daging bisa kuat sampai 1 tahun loh. Wow.
  3. Sebelum disimpan di freezer, simpan daging (mampir dulu) di dalam kulkas yg sejuk selama 4-5 jam. Setelah dingin, baru dimasukkan ke dalam lemari es (freezer). 4. Jika mau masak daging beku, jangan mencairkan es daging atau daging beku menggunakan air panas. Cara yg benar adalah letakkan daging beku tersebut di bawah air kran suhu normal (dalam keadaan daging masih terbungkus rapat dalam plastik). Setelah daging kembali empuk, buka plastik, cuci daging hingga bersih, tiriskan, lalu siap dimasak. Wallahu’alam
    4. Jika mau masak daging beku, jangan mencairkan es daging atau daging beku menggunakan air panas. Cara yang benar adalah letakan daging beku tersebut di bawah air kran suhu normal (dalam keadaan daging masih terbungkus rapat dalam plastik). Setelah daging kembali empuk, buka plastik, cuci daging hingga bersih, tiriskan, lalu siap dimasak.

.

Semoga bermanfaat,

Salam Hangat, Fayda Team

“Syarat Hewan Qurban yang Harus di Penuhi”

“Syarat Hewan Qurban yang Harus di Penuhi”

Pada hari Idul Adha, umat Islam menyempurnakan ibadah dengan memberikan qurban. Jenis hewan yang dapat menjadi qurban di antaranya adalah unta, sapi, atau kambing (domba atau kambing biasa).
.
Secara umum, hewanyang akan dijadikan qurban haruslah halal secara islam dan sehat. Namun dengan banyaknya penjual hewan qurban yang ada, tentu membuat kita sebagai orang awam bingung memilih hewan qurban yang sah dan sehat. Tidak ingin qurban kali ini menjadi tidak sah dikarenakan beberapa hal sepele kan?
.
Ada beberapa syarat hewan qurban adalah sebagai berikut:
1. Jenis hewan qurban
Hewan yang memenuhi syarat untuk berqurban adalah binatang ternak. Hewan yang termasuk dalam jenis ini yaitu, unta, sapi, kambing, dan domba.
2. Status kepemilikan hewan
Syarat selanjutnya adalah mengenai status kepemilikan / proses mendapatkan hewan tersebut. Hewan yang memenuhi syarat adalah hewan yang diperoleh secara halal dan dimiliki dengan akad yang halal. Jadi bukan merupakan hewan curian atau hewan yang dimiliki dengan uang yang haram, seperti riba misalnya. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik. (HR. Muslim)
3. Tidak cacat
Ada empat cacat yang tidak boleh dalam hewan qurban, yaitu: Buta sebelah matanya yang jelas butanya, sakit dan jelas sakitnya, pincang dan jelas pincangnya, dan sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Hewan qurban yang dimakruhkan seperti: Telinga dan ekornya putus atau robek, Pantat dan ambing susunya putus, gila, kehilangan gigi, tidak bertanduk atau tanduknya patah.
4. Usia Hewan Qurban
Menurut syariat, usia hewan harus sudah jaza’ah (berusia setengah tahun) untuk domba, dan tsaniyyah (berusia setahun penuh) untuk hewan selain domba. Unta yang telah sempurna berusia 5 tahun, Sapi yang telah sempurna berusia 2 tahun, kambing yang telah sempurna berusia 1 tahun, dan domba genap 6 bulan, masuk bulan ke 7
.
Jadi yang paling utama menurut sifatnya adalah hewan yang memiliki sifat sempurna dan bagus, diantaranya: gemuk, dagingnya banyak, sehat, bentuk fisik sempurna, dan bentuknya bagus. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: www.wajibbaca.com

“Belajar dari Bapak Penjual Bakso”

“Belajar dari Bapak Penjual Bakso”

Salah satu ujiannya adalah perintah Allah SWT melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail!”. Karena keimananan, keikhalasan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS perintah itu dilaksanakan sampai akhirnya dengan kebesaran Allah SWT maka Ismail digantikan dengan seekor domba kibas. Hari itu kita kenal sebagai Hari Raya Idul Kurban (Idul Adha).
.
Hari Raya Idul Adha diperingati oleh umat Islam pada tanggal 10-13 Dzulhijjah dan hukum berkurban mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum adalah Sunnah muakkad (sunnah yang ditekankan). Yang artinya Makruh hukumnya untuk tidak melaksanakannya jika mampu. Berdasarkan firman Allah : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah” (Q.S Al-Kautsar : 2) dan sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka hendaklah ia mengulangi” (Muttafaq ‘Alaihi).
.
Kata Mampu menurut Imam Syafi’i dalam berqurban adalah apabila seseorang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, senilai hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq.
.
Dari sini timbul pertanyaan, apakah kita termasuk golongan tersebut?. Karena kita terkadang suka merasa gaji kita kurang dan hanya cukup untuk biaya hidup. Padahal di belakang itu kita suka sekali akan ngopi di café, belanja ke mall, nonton bioskop, beli tas dan baju, bahkan ganti gadged
.
Niat baik memang selalu banyak rintangannya dan malas untuk dikerjakan. Teringat kisah bapak tukang bakso. Ketika menerima uang dari penjualan baksonya si bapak ini selalu membagi uangnya menjadi 3, yaitu dompet untuk menafkahi keluarganya, kotak kecil untuk dana qurban, dan kaleng bekas untuk dana Haji
.
Tujuannya sederhana, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi haknya, mana yang menjadi hak orang lain (amal ibadah), dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurna iman seorang muslim. Dengan niat dan tujuan yang jelas bapak tukang bakso itu berhasil melakukan qurban setiap tahun selama dia menjadi penjual bakso. Masyaa Allah… Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: www.qmfinancial.com

“Bulan Dzulhijjah adalah Bulan yang Istimewa”

“Bulan Dzulhijjah adalah Bulan yang Istimewa”

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa, banyak orang yang menyebutnya bulan Haji. Sebagai umat islam tentu kita menyambutnya dengan rasa gembira, karena pada bulan tersebut banyak keutamaan yang tidak akan kita jumpai di bulan bulan lainnya. Diantaranya adalah, ibadah sholat idul adha, puasa, sedekah (qurban) dan haji.
.
“Tidak ada hari-hari dimana amal sholih lebih disukai Allah pada hari itu dari pada hari-hari ini, maksudnya 10 hari Dzulhijjah. Kemudian para sahabat bertanya, ‘Dan bukan pula jihad, ya Rasulullah?’ Rasul lalu menjawab, Dan tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar membawa diri dan hartanya kemudian ia pulang tak lagi membawa apa-apa” (HR. Bukhari)
.
Pada bulan Dzulhijjah umat islam disunnahkan untuk melaksanakan puasa sunnah Dzulhijjah, Menunaikan ibadah haji dan menyembelih hewan Qurban. Puasa Dzulhijjah dilakukan mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai tanggal 7 Dzulhijjah.
.
Dilanjut dengan puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah), yaitu dua hari sebelum hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah. Lalu di 9 Dzulhijjah ada puasa Arafah. Puasa Arafah merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan, Jika tidak mampu berpuasa dari tanggal 1 sampai 8 Dzulhijjah, maka cukup melaksanakan puasa Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah.
.
Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar. Oleh karenanya para ulama memasukkan puasa Arafah ini ke dalam puasa sunnah yang sangat dianjurkan (Muakkad). Rasulullah SAW bersabda: “Puasa Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim). Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: pelangiaqiqah.com

“Adab Menasehati Menurut Islam

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya,” (HR. Bukhari)
.
Sahabat, bisa jadi nasehat yang kita sampaikan untuk saudara seiman jauh lebih bernilai daripada emas dan perak yang kita beri untuknya. Karena nasehat bermanfaat di dunia akhirat, sedangkan emas dan perak belum tentu terpakai untuk kehidupan akhirat kelak.
.
Akan tetapi, banyak orang yang sulit menerima nasehat, dikarenakan begitu seringnya nasehat meluncur tanpa adab. Padahal dalam Islam kita diajarkan etika dalam menasehati saudara seiman, sebagaimana setiap amalan memiliki adabnya masing-masing.
.
Berikut kami rangkum beberapa adab dalam memberi nasihat:
1. Niat untuk memperbaiki, bukan untuk pamer diri
“Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. Bukhari Muslim)
Jangan pernah memberi nasehat dalam kondisi merasa diri lebih baik dari saudara kita, karena akan berpengaruh pada pilihan kata yang akan kita gunakan dalam memberi nasihat, tentu saja tidak ada manusia yang nyaman jika diberi nasehat dalam posisi salah-benar.
2. Memberi nasihat cukup empat mata
Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam)
Imam Syafii dalam syairnya mengatakan:
Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,
dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian
Karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya
Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku
maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti
3. Sampaikan nasehat dengan kata kata lembut dan cara terbaik
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: http://tabungwakaf.com