Do’a Mohon Kesembuhan, Ustadz Arifin Ilham

Syafakallah Yaa Ustadz Arifin Ilham.
Allohuma robbannas, adz-hibil ba’sa isyfi antas-syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka.
“Ya Allah Tuhan Manusia, hilangkanlah rasa sakitnya. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan yang sejati kecuali kesembuhan yang datang dari Mu. Yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan satu penyakit apapun.”
.
Semoga Allah memberikan kesembuhan bagi beliau @kh_m_arifin_ilham aamiin.
.
Mari kita do’a kan bersama-sama shalihah, inshaa Allah setiap do’a kita bisa membantu kesembuhan beliau, karena kekuatan do’a itu luar biasa.
Mari kita membaca surat Al-Fatihah bersama-sama..
.
Al-Fatihah…
.
Salam Hangat, Fayda Team
#arifinilham
#ustadzarifinilham
#ustadarifinilham

Amalan-Amalan Untuk Wanita Yang Sedang Haid

Muslimah Cuti Juga Bisa Panen Pahala Lhoo… Yuk, intip tips-tips berikut…
 
Kali ini kita akan mengupas *kayak mangga* tuntas bagaimana sih seorang muslimah bisa panen pahala dalam keadaan haid? Pasti pada bingung kan ? Banyak orang yang saat ini bisa panen pahala, bebas sholat, puasa, baca Al-Qur’an, dan ibadah lainnya. Lalu yang lagi diberi istirahat sama Allah, harus ngapain donk? Masa Cuma duduk diam sambil mengkhayal bakal dapet panenan tanpa berusaha? Gak mungkin kan?
 
Saatnya kita untuk menerima ikhlas keadaan setiap wanita, karena wanita begitu istimewa. Allah telah memberikan keistimewaan kepada wanita melebihi lelaki. Bukankah seorang lelaki harus lebih hormat 3 kali kepada ibu daripada bapak? Bukankah seorang ibu adalah wanita? Nah, gimana nih caranya walaupun haid masih bisa panen pahala berlipat ganda? Yuk, intip tips-tips berikut.
 
Beberapa tips yang dapat sahabat muslimah lakukan untuk tetap meraup pahala berlimpah meski si merah menghampiri, di antaranya:
 
1. Sedekah
Sedekah tidak harus berwujud uang. Sedekah juga bisa berwujud lain, misalnya saja dengan senyuman. Jangan salah, senyum adalah sedekah yang paling mudah, namun pahalanya Masya Allah, tiada terkira. So, sudah berapa senyuman yang kau berikan untuk saudaramu hari ini?
 
2. Membaca buku agama dan pengetahuan
Salah satu kriteria wanita sholihah adalah selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, semangat dalam mengamalkan ilmunya dan semangat mengajak orang lain untuk mengajarkan ilmunya. Dengan demikian, kita tidak terhalang untuk mendapatkan begitu banyak pahala, meskipun kita tidak bisa shalat dan berpuasa. Kita sepantasnya menyibukkan diri meluangkan waktu untuk bersemangat menuntut ilmu yang bermanfaat di dunia hingga akhirat.
 
3. Mendengarkan murottal
Ada dari kita yang meyakini bahwa membaca Al-Quran saat haid adalah diperbolehkan. Jadi, bagi yang mengambil keyakinan ini, tetaplah bertilawah. Bila yang meyakini pendapat lain (tidak memperbolehkan tilawah saat haid), jangan khawatir ya ukhti, kita masih bisa mendapatkan pahala membaca Al-Qu’an dengan mendengarkan murottal, bisa juga sambil menghafal ayat Al-Qur’an, murojaah, atau membaca terjemah.
 
4. Perbanyak dzikir, berdo’a, dan bershalawat
Masih ingat kan tentang waktu-waktu yang mustajab untuk berdo’a?. Bagi para muslimah yang masih diberi keringanan oleh Allah untuk sejenak istirahat dari aktivitas ibadah kepada-Nya, masih boleh kok kalau berdzikir dan berdo’a. Lalu, muncul pertanyaan, dzikir dan do’a yang bagaimana? Bukankah banyak dzikir dan do’a yang diadopsi dari Al-Qur’an?
 
Betul sekali, meskipun wanita haid tidak diperbolehkan sholat atau membaca Al-Qur’an (menurut beberapa pendapat ulama), tapi Rasulullah menganjurkan wanita untuk memperbanyak do’a dan dzikir agar terhindar dari godaan syetan yang terkutuk. Mari kita perbanyak dzikir, memanjatkan do’a, membaca tasbih-tahmid-takbir, bershalawat serta memperbanyak istighfar.
 
5. Menjaga diri dari hal yang sia-sia
Tetap melatih kebersihan hati dan menjaga ahlak baik. Rasulullah Saw. bersabda, “bertakwalah di manapun kalian berada dan berbuatlah kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapus keburukan, perlakukanlah orang-orang dengan ahlak baik.” (H.R Ahmad)
 
Karena kita sedang tidak bisa melaksanakan ibadah yang mengharuskan kita dalam keadaan suci, maka hendaklah kita tidak menghabiskan waktu dengan hal yang sia-sia. Kita bisa mengingatkan saudara kita untuk beramar ma’ruf nahi munkar, kita dapet pahala juga lho muslimah. Jadi, yuk muslimah-muslimah yang masih rehat, jangan hanya duduk diam melihat saudaranya yang ketika adzan sudah berkumadang masih nongkrong di depan TV atau bahkan malah ikut-ikutan nogkrong (oh itu tidak boleh -_-), sekali-kali tegur donk, masa mau ketemu sang Kekasih masih ogah-ogahan? Gak banget kan? Ayo, berlomba-lomba menuju kebaikan dan taqwa. Fastabiqul Khoirot.
 
6. Menghadiri majelis ilmu
Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim muslimah, bahkan sangat dianjurkan oleh Baginda Nabi Rasulullah SAW. Menuntut ilmu bagi wanita haid dapat dilakukan dengan cara mengunjungi majelis-majelis ilmu, karena dalam suatu majelis ilmu akan hadir para malaikat-malaikat yang mendo’akan orang-orang yang hadir dalam majelis ilmu tersebut. Membaca buku-buku bermanfaat, mendatangi taklim, majelis ilmu atau sekadar mendengarkan ceramah dari berbagai media. Naah thu…membaca buku juga termasuk kriteria menuntut ilmu lho.
 
7. Perbanyak Istighfar
Saat kita sedang haid pun perbanyaklah beristighfar, kita manusia pastilah tidak luput dari kesalahan dan dosa. Meskipun ketika haid kita tidak bisa melaksanakan sholat taubat untuk memohon ampun pada Allah, kita masih bisa beristighfar sebanyak-banyaknya. Semoga Allah dapat mengampuni kita. Aamiin
 
Demikian beberapa hal yang bisa seorang wanita lakukan saat haid. Ingat, jangan pernah bersedih, menyesali diri, dan sebagainya. Sebab semua terjadi berdasarkan kehendak Allah. Toh, jika sedang tidak suci bukan berarti hilang kesempatan meraih pahala berlimpah. Allah itu Maha Adil, Maha Melihat, Maha Pengasih-Penyayang, sekaligus Maha Pemberi Perhitungan. Jangan pernah berburuk sangka pada-Nya, karena Allah berdasarkan prasangka hamba-Nya dan Allah lebih mengetahui segala yang terbaik bagi kita.
 
Nah, itu dia amalan-amalan yang bisa muslimah lakukan saat dirinya tengah mengambil masa cuti yang rutin diberikan oleh Allah. Jadilah muslimah yang tangguh yang mampu menghadapi tempaan badai kehidupan, tetaplah menjadi muslimah yang ridha dan ikhlas akan segala keterbatasan yang dimiliki. Hanya satu kata yang bisa saya ungkapkan. Bahwa wanita itu HEBAT.
 
Salam Hangat, MyHayra Team
Sumber : http://assalamsumbar.com

Di Mana Letak Kursi Paling Aman di Pesawat?

Siapa yang tak suka bepergian menggunakan pesawat? Lebih cepat sampai, pelayanan dari awak kabin yang ramah hingga pemandangan dari atas yang menakjubkan, membuat banyak orang lebih memilih moda transportasi satu ini.

Namun, di balik itu, tak sedikit pula yang takut untuk naik pesawat. Alasannya bermacam-macam, mulai dari mual hingga kecelakaan. Tapi beberapa penelitian yang sudah dilakukan mengungkapkan sebenarnya ada lokasi (khususnya tempat duduk) teraman di dalam pesawat.
Media asal Amerika Serikat, Popular Mechanic, pada 2007 lalu pernah membuat penelitian mengenai seat teraman di pesawat. Dilansir HuffingPost, sebelumnya, majalah ini menganalisis setiap kecelakaan pesawat yang terjadi sejak tahun 1971.
Hasilnya menyimpulkan bahwa penumpang yang duduk di kursi belakang pesawat memiliki peluang 69 persen lebih besar untuk selamat. Bahkan peluang ini lebih besar daripada mereka yang duduk di bagian tengah dan depan.
 
Untuk penumpang yang duduk di tengah memiliki kemungkinan selamat sebesar 56 persen. Sementara posisi paling riskan ada di bagian awak penerbang, yaitu 49 persen.
 
Penelitian ini berbeda dengan hasil yang dikerjakan oleh TIME yang didasari pada studi kecelakaan pesawat terbang dalam 35 tahun terakhir. Melalui Federal Aviation Administration’s CSTRG Aircraft Accident Database, mereka mempelajari dari kecelakaan dan korban jiwa.
Analisis menemukan bahwa penumpang yang duduk di bagian belakang pesawat memiliki tingkat kematian sebesar 32 pesen. Kemudian penumpang pada seat tengah kemungkinan kematian sebesar 39 persen dan di depan sebanyak 38 persen.
 
Tapi, angka kematian paling kecil ditunjukan pada mereka yang duduk lima baris dari posisi paling belakang. Penumpang pada seat ini kemungkinan mengalami kematian hanya 28 persen.
 
Selanjutnya, ada pula hasil penelitian dari Universitas Greenwich yang diterbitkan pada 2007 lalu. Universitas yang berada di London ini mengatakan penumpang yang berada di dekat pintu keluar memiliki kemungkinan bertahan hidup lebih besar.
 
Kemudian ada pula analisis dari Galea pada 2011 lalu yang menyimpulkan bahwa tempat duduk di bagian belakang pesawat dan di dekat lorong lebih aman. Kesimpulan ini didapat setelah menganalisis sekitar 100 kecelakaan pesawat dan melakukan wawancara terhadap kurang lebih 1.900 korban yang selamat.
 
Tapi terlepas dari itu, Alison Duquettte, juru bicara Federal Aviation Administration, menegaskan kecelakaan bisa terjadi saat pesawat ada di udara, saat pendaratan, bahkan pada waktu lainnya. Karena itu dirinya menambahkan tidak ada kursi di pesawat yang benar-benar aman saat kecelakaan terjadi.
 
Dan bila sebagian besar penelitian mengungkapkan jika bagian belakang pesawat lebih aman, sebenarnya semua tergantung kerusakan yang terjadi pada pesawat. Sebagai contoh, bila ekor pesawat yang terkena benturan maka penumpang tengah dan depan tentu lebih aman dari pada mereka yang duduk di belakang.
 
Walau begitu, sebenarnya bepergian dengan pesawat jauh lebih aman bila dibanding dengan transportasi lain. Dilansir TIME, untuk mobil angka kecelakaan 1 berbanding 122 mobil, untuk sepeda motor 1 banding 900, sementara pesawat hanya 1 banding 8 ribu pesawat.
Bagaimana menurutmu?
 
 
Salam Hangat, MyHayra Fayda Team
Sumber : https://m.kumparan.com
 
 

Kalimat Dzikir yang Lebih Berat dari Tujuh Lapis Bumi, Langit, dan Seisinya

Manusia tentu sangat sulit membayangkan bagaimana beratnya tujuh lapis bumi. Volume ini akan semakin berat bila ditambah dengan tujuh lapis langit yang materinya tidak diketahui secara pasti.
 
Dzikir adalah merupakan kalimat-kalimat yang dilafadzkan seorang muslim sebagai salah satu bentuk ibadah dengan cara mengingat Allah. Ada banyak kalimat dzikir yang bisa dilafadzkan antara lain tasbih, tahmid, takbir dan masih banyak lagi.
 
Masing-masing kalimat dzikir mempunyai keistimewaan tersendiri. Misalnya kalimat dzikir yang beratnya melebihi tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Sangat istimewa bukan?
 
Kalimat dzikir tersebut ialah Laa ilaha illallah yang artinya tiada Tuhan selain Allah. Nabi Musa ‘Alahis salam berkata kepada Rabbnya, “Ya Allah, ajarkanlah kepadaku tentang sesuatu untuk berdzikir kepada-Mu?” Allah Ta’ala pun menjawab, “Ucapkanlah Laa ilaha illallah.”
 
Dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam an-Nasa’i ini, Nabi Musa As memohon kepada Allah Ta’ala selepas mendapatkan ajaran tentang kalimat dzikir yang mulia itu. Pinta Nabi Musa As, “Ya Allah, setiap kali mengucapkan dzikir ini, berikanlah aku pahala yang istimewa.”
 
Sebagaimana disebutkan dalam hadist Qudsi dari Abu Sa’id al-Khudri, Allah Ta’ala mengatakan dalam firman-Nya “Wahai Musa, seandainya tujuh lapis bumi beserta isinya digabungkan dengan tujuh lapis langit dengan seluruh semestanya dan diletakkan di sebelah timbangan kalimat Laa ilaha illallah, niscaya kalimat itu lebih berat, melebihi semua itu.”
 
Masya Allah, begitu besarnya keutamaan kalimat dzikir ini, sehingga beratnya melebihi tujuh lapis langit dan bumi. Padahal menurut kita selama ini, bumi beserta isinya saja sudah sedemikian berat. Namun nyatanya, kalimat yang mudah diucapkan ini memiliki keutamaan yang sangat besar dibanding hal itu.
 
Tapi faktanya, tidak semua orang mampu mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah ini. Hanya manusia pilihan Allah saja yang dengan ikhlas mengucapkan kalimat ini.
 
Bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah, maka kalimat Laa ilaha illallah adalah merupakan hal mustahil yang bisa terucap. sebab kalimat ini menjadi persyaratan mutlak saat seseorang percaya kepada Islam. Kalimat yang disebutkan dalam hadits lain, jika diucapkan dengan ikhlas, kemudian pelakunya mati, maka ia berhak atas surga-Nya Allah Ta’ala. Wallahu a’lam
 
Salam Hangat, MyHayra Fayda Team
Sumber : http://bagikandakwah.blogspot.com
 

Mengenal Bendera dan Panji Rasulullah Saw

“Sesungguhnya panji Rasulullah itu berwarna hitam dan benderanya berwarna putih.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Thabrani, Hakim)
 
Ar-Rayah adalah panji Rasulullah yang juga diberi nama ‘al-Uqab’. Berwarna hitam dan berbentuk segi empat. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan :
 
“Telah dinyatakan bahwa Rasulullah Saw. memiliki sebuah panji yang bernama al-‘uqab. Panji itu berwarna hitam dan berbentuk persegi empat.” (Fath Al-Bariy : VI/127)
Ar-Rayah bertuliskan ‘Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasul Allah‘ berwarna putih.” (HR. Ahmad)
 
Al-Liwa adalah bendera Rasulullah dengan warna putih. Dari Ibnu Umar, beliau berkata :
 
“Tatkala Rasulullah Saw. memasangkan benderanya, beliau memasangkan bendera (liwaa’) yang berwarna putih.” (Abu Syaikh, Ahklaq An-Nabi Saw wa Adabuhu, hal. 155, No. 423)
 
Dituturkan Oleh Imam Thabrani dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas, bahwa bendera Rasulullah Saw. bertuliskan lafadz ‘Laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasul Allah’ (Mu’jam Al-Ausath : 1/77. No. 219).
 
Tentang warna tulisan, disebutkan :
“Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam.” (HR. Ahmad)
 
Salam Hangat, MyHayra Fayda Team
 
#benderatauhid #benderaalliwa #benderaarrayah #benderaislam #benderarasulullah
 
 
 

DO’A-DO’A KETIKA HADAPI MUSIBAH

Bencana alam merupakan suatu musibah yang tidak pernah kita harapkan kedatangannya. Terdapat berbagai macam bentuk bencana alam yang sering terjadi seperti seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami dan lain sebagainya.
 
Dalam kitab Al-Azkar karya Imam Nawawi disebutkan bahwa Nabi Saw. mengajarkan Sayidina Ali sebuah do’a yang dibaca saat bencana alam. Dengan membaca doa ini, Allah akan menghilangkan bencana tersebut.
Do’a dimaksud sebagai berikut:
 
بِسْمِ اللهِ اْلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِا للهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
 
“Bismillahirrahmanirrahim wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.”
 
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada daya dan kekuatan (bagi kami) melainkan hanya dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” (HR. Ibnu al-Sunni dari Sayyidina Ali)
 
Adapun do’a lain yang dapat kita baca adalah sebagai berikut :
1. Do’a Perlindungan dari Bencana
 
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ القَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ
 
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari musibah yang tidak kuat aku tanggung, sebab-sebab datangnya kebinasaan, takdir yang membawa akibat buruk dan kegembiraan musuh atas penderitaanku.”
 
Do’a ini berasal dari sebuah hadits yang shahih berikut ini:
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ القَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاءِ»
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berlindung (kepada Allah Ta’ala) dari musibah yang tidak kuat ditanggung, sebab-sebab datangnya kebinasaan, takdir yang membawa akibat buruk dan kegembiraan musuh.” (HR. Bukhari no. 6347 dan Muslim no. 2707)
 
2. Do’a Menghadapi Musibah
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uuna. Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa.
 
Artinya : Sesungguhnya kami memiliki Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah kami pahala dalam musibah ini dan berilah pengganti yang lebih baik. (HR. Muslim)
 
3. Do’a Ketika Menghadapi Kesulitan
 
Allahumma Laa shla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan
 
Artinya : Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. (HR. Ibnu Hibban)
 
Wallahu a’lam bish-shawab
 
Salam Hangat, MyHayra Team
Sumber :
https://bincangsyariah.com
http://azimatbondaku.blogspot.com
https://www.islamkafah.com

Puasa A’syura dan Tasu’a Dapat Menghapus Dosa Setahun yang Telah Lalu

Allah Ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an, bahwa Dia telah menjadikan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah: 36)

Salah satu amal shalih yang dianjurkan Nabi SAW untuk dikerjakan pada bulan ini adalah ibadah puasa (shaum). Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya. Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (syahrullah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu” (HR. Muslim, no. 1982).

Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya puasa ‘Asyura, dengan keutamaan bisa menghapuskan dosa setahun pada masa lalu. Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram.

“Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu” (HR. Muslim no. 1975).

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari RA, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, maka beliau bersabda: “Puasa ‘Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).

Ibnu Abbas RA mengabarkan semangat puasa Nabi SAW sebagai berikut:

“Aku tidak pernah melihat Nabi SAW bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan ini, yakni bulan Ramadhan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW menganjurkan kepada yang melaksanakan puasa ‘Asyura, untuk melengkapinya dengan puasa Tasu’a, yaitu puasa sehari sebelum puasa ‘Asyura. Puasa pada tanggal 9 Muharram ini disyariatkan untuk menyelisihi syariat puasa Yahudi dan Nasrani.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata, “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada hari itu, mereka berkomentar, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW pun menjawab, ‘Kalau begitu, pada tahun depan inshaa Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi SAW sudah wafat” (HR. Muslim no. 1916).

Imam Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berkata: “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara keseluruhan, karena Nabi SAW telah berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”

Imam Nawawi rahimahullaah menyebutkan ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasu’a:

  1. Untuk menyelisihi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.
  2. Untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja.
  3. Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.

 

CARA MELAKUKAN PUASA ‘ASYURA

Puasa ‘Asyura bisa dilakukan dengan tiga cara, antara lain:

PERTAMA: Mengiringi puasa Asyura dengan puasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya. Jadi puasa tiga hari yaitu  tanggal 9, 10 dan 11 Muharrom. Inilah yang paling sempurna.

DR. Said bin Ali Al-Qohthon dalam kitab As-Shiyam fil Islam halaman 364 mendukung cara pertama ini dengan beberapa argumen berikut:

Sebagai kehati-hatian. Karena bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari. Apabila tidak diketahui penetapan awal bulan dengan tepat, maka berpuasa pada tanggal 11-nya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapati puasa Tasu’a (tanggal 9) dan puasa ‘Asyura (tanggal 10).

Dia akan mendapat pahala puasa tiga hari dalam sebulan, sehingga baginya pahala puasa sebulan penuh (sesuai hadits riwayat Muslim 1162).

Dia akan berpuasa tiga hari pada bulan Muharrom yang mana nabi telah mengatakan: “Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram” (HR. Muslim 1163).

Tercapai tujuan dalam menyelisihi orang Yahudi, tidak hanya puasa ‘Asyura, akan tetapi menyertakan hari lainnya juga (Fathul Bari 4/245, Syarah Riyadhus Shalihin, Ibnu Utsaimin 5/305).

KEDUA: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram (puasa Tasu’a dan Asyura), sesuai dengan petunjuk dalam banyak hadits Nabi SAW.

KETIGA: Berpuasa pada hari ‘Asyura tanggal 10 Muharram saja.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban terhadap persoalan ini: “Puasa hari ‘Asyura menjadi kafarat (penghapus) dosa selama satu tahun dan tidak dimakruhkan berpuasa pada hari itu saja” (Al-Fatawa Al-Kubra Juz IV; Ikhtiyarat, hlm. 10).

Senada itu, Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj juga menyimpulkan bahwa tidak apa-apa berpuasa pada hari itu saja.

Jadi, berpuasa pada hari ‘Asyura saja tanpa menambah puasa Tasu’a sehari sebelumnya dibolehkan. Tapi yang lebih utama adalah menambah puasa Tasu’a sehari sebelumnya.

Wallahu Ta’ala A’lam

 

Salam Hangat, MyHayra Team

Sumber : berbagai sumber

Tips Menyimpan Daging Qurban Agar Tahan Hingga Lebih Dari 1 Tahun

TIPS MENYIMPAN DAGING QURBAN YANG BENAR:
(Agar tetap terjaga kualitasnya)

Bismillah … Sahabatku sekalian
Ini sedikit Tips dari dr. Nanung Danar Dono, Ph.D.
Dir. Halal Center
Fakultas Peternakan UGM
Simak dan ikuti ya…

1. Sebelum disimpan, daging qurban jangan dicuci. Jika dicuci pakai air kran, kuman-kuman bisa masuk dan tinggal di dalam pori-pori daging. Itu bisa merusak kualitas daging. Nyucinya kalo pas mau dimasak saja.

2. Jika dapat daging banyak, jangan menyimpan daging utuh 2-4 kg di dalam freezer. Cara yg benar, potong daging kecil-kecil, lalu simpan di dalam plastik-plastik berukuran 1/2 kg atau 1 kg. Jika mau masak, ambil satu kantong kecil, biarkan yg lain tetap beku di dalam freezer. Kalo kayak gini daging bisa kuat sampai 1 tahun loh. Wow.

3. Sebelum disimpan di freezer, simpan daging (mampir dulu) di dalam kulkas yg sejuk selama 4-5 jam. Setelah dingin, baru dimasukkan ke dalam lemari es (freezer).

4. Jika mau masak daging beku, jangan mencairkan es daging atau daging beku menggunakan air panas. Cara yg benar adalah letakkan daging beku tersebut di bawah air kran suhu normal (dalam keadaan daging masih terbungkus rapat dalam plastik). Setelah daging kembali empuk, buka plastik, cuci daging hingga bersih, tiriskan, lalu siap dimasak.

Baarakallah
Semoga bermanfaat

Sebarkan ke saudara kita semoga menjadi amal jariyah

Jazaakumullahu khairan
🌼🍀🌺🌸🍁☘🌻🌹

Salam Hangat, MyHayra Team

6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah

6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah

Pertama: Puasa

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[1], …”[2]

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [3]

Kedua: Takbir dan Dzikir

Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[4]

Catatan:

Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu).

Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah[5].

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.

Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh

Yang paling afdhol ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah. Silakan baca tentang keutamaan amalan ini di sini.

Keempat: Memperbanyak Amalan Sholeh

Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kelima: Berqurban

Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq disunnahkan untuk berqurban sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Silakan baca tentang keutamaan qurban di sini.

Keenam: Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama. Silakan baca tentang taubat di sini.

Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[6]

Sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari tersebut (sepuluh hari pertama Dzulhijah) dengan melakukan ketaatan pada Allah, dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah.[7]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

 

Salam Hangat, MyHayra Team

Sumber : www.rumaysho.com

[1] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.

[2] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[3] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.

[4] Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”.

[5] Syaikh Hammad bin ‘Abdillah bin Muhammad Al Hammad, guru kami dalam Majelis di Masjid Kabir KSU, dalam Khutbah Jum’at (28/11/1431 H) mengatakan bahwa takbir muqoyyad setelah shalat diucapkan setelah membaca istighfar sebanyak tiga kali seusai shalat. Namun kami belum menemukan dasar (dalil) dari hal ini. Dengan catatan, takbir ini bukan dilakukan secara jama’i (berjama’ah) sebagaimana kelakukan sebagian orang. Wallahu a’lam.

[6] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121.

[7] Point-point yang ada kami kembangkan dari risalah mungil “Ashru Dzilhijjah” yang dikumpulkan oleh Abu ‘Abdil ‘Aziz Muhammad bin ‘Ibrahim Al Muqoyyad.

 

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Awal Dzulhijjah adalah waktu utama untuk beramal shalih. Amal shalih yang dapat kita lakukan diantaranya dengan banyak berdzikir, bertakbir, berpuasa, dll.
 
Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968)
 
Dalil lain yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,
 
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2)
 
Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[1] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[2] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[3] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijjah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[4]
 
Lantas manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan penjelasan yang bagus tentang masalah ini. Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).”[5]
 
Maka perbanyaklah melakukan amal shalih. Pada bulan Dzulhijjah dianjurkan untuk berpuasa, baik puasa penuh selama sembilan hari (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah) atau berpuasa pada sebagian harinya saja. Bisa diniatkan dengan puasa Daud atau bebas pada hari yang mana saja, namun jangan sampai ditinggalkan puasa Arafah. Karena puasa Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun.
 
Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).
 
Salam Hangat, MyHayra Team
Sumber : rumaysho.com
________________________________________
[1] Lihat Taisir Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H, hal. 923.
[2] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, Al Maktab Al Islami, cetakan ketiga, 1404, 9/103-104.
[3] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan tahun 1424 H, hal. 159.
[4] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 469.
[5] Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, 1407, 1/35.