Seperti apakah shalat semalah suntuk?

Seperti apakah shalat semalah suntuk?

Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Shubuh berjamaah, maka seolah ia telah melaksanakan shalat semalaman penuh.” (HR. Muslim)
.
Dalam riwayat Tirmidzi, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya shalat separuh malam. Dan barangsiapa yang melaksanakan shalat Isya dan Shubuh berjamaah, maka baginya seperti shalat semalaman.” (HR. Tirmidzi)
.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang munafik daripada shalat Shubuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya, pasti mereka mendatanginya walaupun dalam keadaan merangkak.” (Muttafaqun ‘alaihi). (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Sifat Orang munafik disebutkan dalam QS. An-Nissa: 142, yang artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
.
Apa akibatnya malas bangun shubuh?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari dan Muslim) Wallahu’alam.
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: rumaysho.com

“Bolehkah Suami Menikmati Penghasilan Istri?”

Tanggung jawab terbesar suami yang menjadi hak istri adalah memberikan nafkah. Allah SWT berfirman: “Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (QS. Al-Baqarah:233)
.
Nafkah yang diberikan suami kepada istrinya, merupakan ibadah terbesar suami terhadap keluarganya. Karena memberikan nafkah keluarga merupakan beban kewajiban syariat untuk para suami. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Semua nafkah yang engkau berikan, itu bernilai sedekah. Hingga suapan yang engkau ulurkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Dari setiap penghasilan yang diperoleh suami, di sana ada jatah nafkah istri yang harus ditunaikan. Ini berbeda dengan harta istri. Allah menegaskan bahwa harta itu murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri
.
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4)
.
Ayat di atas menjelaskan bahwa suami boleh mengambil harta istri jika disertai kerelaan hati. Dan kerelaan hati itu lebih dari sebatas izin. Karena terkadang ada wanita yang dia menghibahkan atau menghadiahkan hartanya atau semacamnya, disebabkan tekanan suami kepadanya. Sehingga diberikan tanpa kerelaan. Disimpulkan dari sini, bahwa yang menjadi acuan tentang halalnya harta istri adalah adanya kerelaan hati
.
Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: konsultasisyariah.com
“Pahala Melimpah bagi Muslimah yang tinggal dirumah”

“Pahala Melimpah bagi Muslimah yang tinggal dirumah”

Di antara perintah Allah kepada wanita muslimah adalah perintah untuk tinggal dan menetap di rumah-rumah mereka. Sebuah perintah yang banyak mengandung hikmah dan maslahat. Tidak hanya bagi wanita itu sendiri, namun juga mengandung kemaslahatan bagi umat.
.
Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).
.
Dengan berdiam di rumah, bukan berarti wanita tidak  bisa melaksanakan aktifitas ibadah. Banyak ibadah yang bisa dilakukan di rumah seperti shalat, puasa, membaca Al Qur’an, berdizkir, dan ibadah-ibadah lainnya. Bahkan Sebaik-baik shalat bagi wanita adalah di rumahnya. Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad)
.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah  menjelaskan bahwa makna ayat di atas artinya tetaplah di rumah-rumah kalian dan janganlah keluar tanpa ada kebutuhan.
.
Termasuk kebutuhan syar’I yang membolehkan wanita keluar rumah adalah untuk sholat di masjid dengan syarat-syarat tertentu, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Janganlah kalian melarang istri-istri dan anak anak kalian dari masjid Allah. Namun hendaklah mereka keluar dakam keadaan berjilbab.
.
Saudariku, perhatikanlah. Perintah untuk tinggal di dalam rumah ini datang dari Dzat yang maha memiliki hikmah, Dzat yang lebih tahu tentang perkara yang memberikan maslahat bagi hamba hambanya.
.
Ketika dia menetapkan wanita harus berdiam dan tinggal dirumahnya, Dia sama sekali tidak berbuat zalim kepada wanita, bahkan ketetapannya itu sebagai tanda akan kasih sayang Allah, kepada hambanya. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://muslim.or.id

“Sedekahkan seluruh persendian kita dengan Sholat Dhuha”

“Sedekahkan seluruh persendian kita dengan Sholat Dhuha”

Setiap orang pasti senang untuk melakukan amalan sedekah. Bahkan kita pun diperintahkan setiap harinya untuk bersedekah dengan seluruh persendian. Ternyata ada suatu amalan yang bisa menggantikan amalan sedekah tersebut yaitu shalat dhuha.
.
Di antara keutamaannya, shalat Dhuha dapat menggantikah kewajiban sedekah seluruh persendian. Dari Abu Dzar, Nabi SAW bersabda: “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim)
.
Persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi SAW: Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim)
.
Kapan waktu pelaksanaan sholat dhuha?
1. Awal waktu yaitu setelah matahari terbit dan meninggi hingga setinggi tombak
Nabi SAW bersabda: “Kerjakan shalat shubuh kemudian tinggalkan shalat hingga matahari terbit, sampai matahari meninggi. Ketika matahari terbit, ia terbit di antara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud.” (HR. Muslim)
Kapan? Kira-kira 15 menit setelah matahari terbit.
2. Waktu terbaik yaitu dikerjakan di akhir waktu
Sedangkan waktu utama mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu, yaitu keadaan yang semakin panas. Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim) Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://rumaysho.com

“Syarat Hewan Qurban yang Harus di Penuhi”

“Syarat Hewan Qurban yang Harus di Penuhi”

Pada hari Idul Adha, umat Islam menyempurnakan ibadah dengan memberikan qurban. Jenis hewan yang dapat menjadi qurban di antaranya adalah unta, sapi, atau kambing (domba atau kambing biasa).
.
Secara umum, hewanyang akan dijadikan qurban haruslah halal secara islam dan sehat. Namun dengan banyaknya penjual hewan qurban yang ada, tentu membuat kita sebagai orang awam bingung memilih hewan qurban yang sah dan sehat. Tidak ingin qurban kali ini menjadi tidak sah dikarenakan beberapa hal sepele kan?
.
Ada beberapa syarat hewan qurban adalah sebagai berikut:
1. Jenis hewan qurban
Hewan yang memenuhi syarat untuk berqurban adalah binatang ternak. Hewan yang termasuk dalam jenis ini yaitu, unta, sapi, kambing, dan domba.
2. Status kepemilikan hewan
Syarat selanjutnya adalah mengenai status kepemilikan / proses mendapatkan hewan tersebut. Hewan yang memenuhi syarat adalah hewan yang diperoleh secara halal dan dimiliki dengan akad yang halal. Jadi bukan merupakan hewan curian atau hewan yang dimiliki dengan uang yang haram, seperti riba misalnya. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik. (HR. Muslim)
3. Tidak cacat
Ada empat cacat yang tidak boleh dalam hewan qurban, yaitu: Buta sebelah matanya yang jelas butanya, sakit dan jelas sakitnya, pincang dan jelas pincangnya, dan sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Hewan qurban yang dimakruhkan seperti: Telinga dan ekornya putus atau robek, Pantat dan ambing susunya putus, gila, kehilangan gigi, tidak bertanduk atau tanduknya patah.
4. Usia Hewan Qurban
Menurut syariat, usia hewan harus sudah jaza’ah (berusia setengah tahun) untuk domba, dan tsaniyyah (berusia setahun penuh) untuk hewan selain domba. Unta yang telah sempurna berusia 5 tahun, Sapi yang telah sempurna berusia 2 tahun, kambing yang telah sempurna berusia 1 tahun, dan domba genap 6 bulan, masuk bulan ke 7
.
Jadi yang paling utama menurut sifatnya adalah hewan yang memiliki sifat sempurna dan bagus, diantaranya: gemuk, dagingnya banyak, sehat, bentuk fisik sempurna, dan bentuknya bagus. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: www.wajibbaca.com

“Belajar dari Bapak Penjual Bakso”

“Belajar dari Bapak Penjual Bakso”

Salah satu ujiannya adalah perintah Allah SWT melalui mimpi. Dalam mimpi tersebut seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail!”. Karena keimananan, keikhalasan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS perintah itu dilaksanakan sampai akhirnya dengan kebesaran Allah SWT maka Ismail digantikan dengan seekor domba kibas. Hari itu kita kenal sebagai Hari Raya Idul Kurban (Idul Adha).
.
Hari Raya Idul Adha diperingati oleh umat Islam pada tanggal 10-13 Dzulhijjah dan hukum berkurban mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum adalah Sunnah muakkad (sunnah yang ditekankan). Yang artinya Makruh hukumnya untuk tidak melaksanakannya jika mampu. Berdasarkan firman Allah : “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah” (Q.S Al-Kautsar : 2) dan sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka hendaklah ia mengulangi” (Muttafaq ‘Alaihi).
.
Kata Mampu menurut Imam Syafi’i dalam berqurban adalah apabila seseorang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, senilai hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq.
.
Dari sini timbul pertanyaan, apakah kita termasuk golongan tersebut?. Karena kita terkadang suka merasa gaji kita kurang dan hanya cukup untuk biaya hidup. Padahal di belakang itu kita suka sekali akan ngopi di café, belanja ke mall, nonton bioskop, beli tas dan baju, bahkan ganti gadged
.
Niat baik memang selalu banyak rintangannya dan malas untuk dikerjakan. Teringat kisah bapak tukang bakso. Ketika menerima uang dari penjualan baksonya si bapak ini selalu membagi uangnya menjadi 3, yaitu dompet untuk menafkahi keluarganya, kotak kecil untuk dana qurban, dan kaleng bekas untuk dana Haji
.
Tujuannya sederhana, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi haknya, mana yang menjadi hak orang lain (amal ibadah), dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurna iman seorang muslim. Dengan niat dan tujuan yang jelas bapak tukang bakso itu berhasil melakukan qurban setiap tahun selama dia menjadi penjual bakso. Masyaa Allah… Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: www.qmfinancial.com

“Bulan Dzulhijjah adalah Bulan yang Istimewa”

“Bulan Dzulhijjah adalah Bulan yang Istimewa”

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa, banyak orang yang menyebutnya bulan Haji. Sebagai umat islam tentu kita menyambutnya dengan rasa gembira, karena pada bulan tersebut banyak keutamaan yang tidak akan kita jumpai di bulan bulan lainnya. Diantaranya adalah, ibadah sholat idul adha, puasa, sedekah (qurban) dan haji.
.
“Tidak ada hari-hari dimana amal sholih lebih disukai Allah pada hari itu dari pada hari-hari ini, maksudnya 10 hari Dzulhijjah. Kemudian para sahabat bertanya, ‘Dan bukan pula jihad, ya Rasulullah?’ Rasul lalu menjawab, Dan tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar membawa diri dan hartanya kemudian ia pulang tak lagi membawa apa-apa” (HR. Bukhari)
.
Pada bulan Dzulhijjah umat islam disunnahkan untuk melaksanakan puasa sunnah Dzulhijjah, Menunaikan ibadah haji dan menyembelih hewan Qurban. Puasa Dzulhijjah dilakukan mulai tanggal 1 Dzulhijjah sampai tanggal 7 Dzulhijjah.
.
Dilanjut dengan puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah), yaitu dua hari sebelum hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah. Lalu di 9 Dzulhijjah ada puasa Arafah. Puasa Arafah merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan, Jika tidak mampu berpuasa dari tanggal 1 sampai 8 Dzulhijjah, maka cukup melaksanakan puasa Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah.
.
Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar. Oleh karenanya para ulama memasukkan puasa Arafah ini ke dalam puasa sunnah yang sangat dianjurkan (Muakkad). Rasulullah SAW bersabda: “Puasa Arafah dapat menghapus dosa dua tahun yang telah lalu dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim). Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: pelangiaqiqah.com

“Macam macam Air dan Hukumnya untuk Bersuci”

“Macam macam Air dan Hukumnya untuk Bersuci”

Air menjadi sesuatu yang penting sebagai sarana utama dalam bersuci, baik bersuci dari hadas maupun dari najis. Dengannya seorang Muslim bisa melaksanakan berbagai ibadah secara sah karena telah bersih dari hadas dan najis yang dihasilkan dengan menggunakan air.
.
Di dalam madzhab Imam Syafi’i para ulama membagi air menjadi 4 (empat) kategori masing-masing beserta hukum penggunaannya dalam bersuci. Keempat kategori itu adalah air suci dan menyucikan, air musyammas, air suci namun tidak menyucikan, dan air mutanajis.
.
Di dalam kajian fiqih air yang volumenya tidak mencapai dua qullah disebut dengan air sedikit. Sedangkan air yang volumenya mencapai dua qullah atau lebih disebut air banyak. Para ulama madzhab Syafi’I menyatakan bahwa air dianggap mencapai 2 qullah apabila volumenya kurang lebih 192.857 liter.
.
1. Air Suci dan Menyucikan (Air Mutlak)
Menurut Ibnu Qasim Al-Ghazi ada 7 macam air yang termasuk dalam kategori ini. Beliau mengatakan: “Air yang dapat digunakan untuk bersuci ada tujuh macam, yakni air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, dan air salju, dan air dari hasil hujan es“ Secara ringkas air mutlak adalah air yang turun dari langit atau yang bersumber dari bumi dengan sifat asli penciptaannya.
2. Air Musyamas
Air musyammas adalah air yang dipanaskan di bawah terik sinar matahari dengan menggunakan wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak, seperti besi atau tembaga. Air ini hukumnya suci dan menyucikan, hanya saja makruh bila dipakai untuk bersuci. Namun tak mengapa bila dipakai untuk mencuci pakaian atau lainnya. Meski demikian air ini tidak lagi makruh dipakai bersuci apabila telah dingin kembali.
3. Air suci namun Tidak Mensucikan
Air ini dzatnya suci namun tidak bisa dipakai untuk bersuci, baik untuk bersuci dari hadas maupun dari najis. Ada dua macam air yang suci namun tidak bisa digunakan untuk bersuci, yakni air musta’mal dan air mutaghayar.
.
Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci baik untuk menghilangkan hadas seperti wudlu dan mandi ataupun untuk menghilangkan najis bila air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah volumenya setelah terpisah dari air yang terserap oleh barang yang dibasuh. Air musta’mal ini tidak bisa digunakan untuk bersuci apabila tidak mencapai dua qullah. Sedangkan bila volume air tersebut mencapai dua qullah maka tidak disebut sebagai air musta’mal dan bisa digunakan untuk bersuci.
.
Adapun air mutaghayar adalah air yang mengalami perubahan salah satu sifatnya disebabkan tercampur dengan barang suci yang lain dengan perubahan yang menghilangkan kemutlakan nama air tersebut. Sebagai contoh air mata air yang masih asli ia disebut air mutlak dengan nama air mata air. Ketika air ini dicampur dengan teh sehingga terjadi perubahan pada sifat-sifatnya maka orang akan mengatakan air itu sebagai air teh. Perubahan nama inilah yang menjadikan air mata air kehilangan kemutlakannya.
4. Air Mutanajis
Air mutanajis adalah air yang terkena barang najis yang volumenya kurang dari dua qullah atau volumenya mencapai dua qullah atau lebih namun berubah salah satu sifatnya warna, bau, atau rasa karena terkena najis tersebut. Air sedikit apabila terkena najis maka secara otomatis air tersebut menjadi mutanajis meskipun tidak ada sifatnya yang berubah. Air mutanajis ini tidak bisa digunakan untuk bersuci, karena dzatnya air itu sendiri tidak suci sehingga tidak bisa dipakai untuk menyucikan.Wallahu a’lam
.
Salam Hangat, Fayda Tema
Sumber: http://www.nu.or.id

“Hukum Menikah Muda Menurut Islam”

“Hukum Menikah Muda Menurut Islam”

Menikah adalah kebutuhan setiap orang dalam hidup. Bagaimanapun, manusia membutuhkan jalinan kasih sayang, ikatan konsekwensi dan kasih sayang untuk bisa menolong satu sama lain menjalankan kehidupan. Tentu saja dalam islam, menikah adalah hal yang diridhoi dan diberkahi Allah jika menjalankannya dalam kerangka beribadah.
.
Di dalam islam, pernikahan bukan sekedar persoalan cinta dan kasih sayang semata. Lebih dari itu, islam mengajarkan agar dalam pernikahan tercipta keluarga sakinah mawaddah warohmah serta terbentuknya generasi yang lebih baik dari masa ke masa lewat keluarga.
.
Di dalam islam, tidak ada batasan seseorang menikah kapan. Tentunya, setelah orang tersebut baligh, mampu bekerja, dan berkecukupan bisa untuk menjalankan pernikahan atau melaksanakan keluarga. Untuk itu, menikah muda dalam islam hukumnya halal atau boleh selagi dalam rukun pernikahan yang syah dan sesuai dengan syarat-syaratnya.
.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.”(QS. an-Nur: 32).
.
Menikah muda menjadi solusi bagi beberapa kalangan agar anak-anak muda tidak terjebak pada perzinahan dan pergaulan bebas. Akan tetapi, di sisi lain tentu menuai konsekuensi mengingat angka perceraian keluarga pada usia 20 tahun (pernikahan muda) juga tinggi. Untuk itu, sebelum memutuskan menikah pada usia muda hendaknya masing-masing orang dan keluarga memikirkan lebih dalam bagaimana dampaknya dan efeknya yang terjadi setelah menikah.
.
Berikut kami rangkum hal hal yang harus dipertimbangkan sebelum menikah muda:
1. Memastikan niat
Niat adalah hal yang paling penting untuk menjalankan sesuatu. Begitupun ketika akan menjalankan pernikahan, meluruskan dan memastikan niat kita untuk ibadah adalah hal yang harus dilakukan. Niat yang kuat maka akan menghasilkan usaha yang kuat, niat yang buruk menghasilkan usaha yang buruk, begitupun niat kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula.
2. Ilmu dan pengetahuan tentang keluarga
Sebelum memasuki pernikahan hendaknya masing-masing pasangan juga mengerti dan memahami ilmu tentang keluarga. Pembelajaran ini tentu tidak hanya dilakukan saat sebelum menikah saja, melainkan sesudah menikah dan ketika menjalankan pernikahan itu sendiri. Tidak akan ada yang berhasil sebuah keluarga jika di dalamnya tidak didasari oleh ilmu dan pengetahuan yang benar. Untuk itu, selagi belum menikah galilah ilmu tersebut agar menjadi berkah ketika melaksanakannya.
3. Kesiapan karir
Karir adalah hal yang penting. Manusia di muka bumi diciptakan untuk menjadi khalifah fil ard yaitu yang bertugas membangun bumi dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk mencapai tujuan hidup. Untuk itu, dibutuhkan karir dari masing-masing orang.
4. Kematangan diri dan kedewasaan
Kematangan diri dan kedewasaan adalah hal yang paling penting untuk dimiliki sebelum melaksanakan pernikahan. Kematangan diri dan kedewasaan tentu bukan sesuatu yang instant untuk didapatkan. Kedewasaan dan kematangan ini membutuhkan proses dan pembelajaran yang terus menerus dan istiqomah.
.
Untuk itu, minimal sebelum menikah karakter, kematangan diri, kemantapan diri, pengalaman memecahkan masalah, dan kesabaran menghadapi berbagai dinamika kehidupan bisa dihadapi. Bukan berarti ketika menikah kebahagiaan pasti akan terus didapatkan, justru akan selalu ada ujian dan tantangan yang akan didapatkan.
.
Sebelum menikah, hendaknya masing-masing pasangan juga mengenal satu sama lain. Untuk itu, dibutuhkan masa taaruf atau perkenalan agar masing-masing bisa mengenal dan meamhami karakter. Masa ini sangat penting dan tentunya harus berjalan secara alamiah, bukan penuh kekakuan dan mencitrakan yang baik-baik saja. Semuanya harus dipahami bersama dan dimaknai bersama agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ketika sudah menikah.
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://dalamislam.com

“Orang yang haram dinikahi itu disebut Muhrim atau Mahram?”

“Orang yang haram dinikahi itu disebut Muhrim atau Mahram?”

Muhrim dan mahram, adalah dua istilah yang sering terbalik-balik dalam percakapan masyarakat. Padahal dua kata ini artinya jauh berbeda. Memang teks arabnya sama, tetapi harakatnya berbeda. Jadi, Penggunaan kata untuk menyatakan saudara yang tidak boleh/haram dinikahi, apakah muhrim atau mahram. Manakah yang tepat?
.
Muhrim adalah kata subjek (pelaku) dari ihram yaitu orang yang telah mengenakan pakaian ihram untuk haji atau umrah. Dan Mahram adalah orang yang diharamkan untuk dinikahi baik karena nasab (keturunan) atau persusuan.
.
Muhrim dalam arti sebenarnya adalah orang yang melakukan ihram. Ketika jamaah haji atau umrah telah memasuki daerah miqat, kemudian seseorang mengenakan pakaian ihramnya, serta menghindari semua larangan ihram, maka orang itu disebut muhrim.
.
Sedangkan mahram, Imam an-Nawawi memberi batasan dalam sebuah definisi berikut, Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9:105)
.
Dan Batasan Batasan kepada yang bukan mahrom antara lain:
1. Tidak boleh safar berdua “tidak halal bagi wanita yang beriman kepada allah di hari akhir untuk mengadakan safar sehari semalam tidak bersama dengan mahromnya” (HR. Bukhori)
2. Tidak boleh berkhalawat (berdua-duaan) kecuali dengan mahromnya
Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Tidaklah seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat kecuali setan menjadi yang ketiga di antara keduanya.” (HR. At-Tirmidzi).
3. Tidak boleh menampakan aurat kecuali dengan mahromnya.
4. Menundukan pandangan
Allah memerintahkan perempuan dan laki-laki agar menundukkan pandangan karena itu merupakan cara efektif untuk menjaga diri dan kehormatan. Selain itu, mengumbar pandangan mata menjadi sumber dosa dan kemungkaran. Allah I berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (An-Nuur: 30-31).
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://dalamislam.com