“Bolehkah Suami Menikmati Penghasilan Istri?”

Tanggung jawab terbesar suami yang menjadi hak istri adalah memberikan nafkah. Allah SWT berfirman: “Merupakan kewajiban bapak (orang yang mendapatkan anak) untuk memberikan nafkah kepada istrinya dan memberinya pakaian dengan cara yang wajar ….” (QS. Al-Baqarah:233)
.
Nafkah yang diberikan suami kepada istrinya, merupakan ibadah terbesar suami terhadap keluarganya. Karena memberikan nafkah keluarga merupakan beban kewajiban syariat untuk para suami. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Semua nafkah yang engkau berikan, itu bernilai sedekah. Hingga suapan yang engkau ulurkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Dari setiap penghasilan yang diperoleh suami, di sana ada jatah nafkah istri yang harus ditunaikan. Ini berbeda dengan harta istri. Allah menegaskan bahwa harta itu murni menjadi miliknya, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri
.
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 4)
.
Ayat di atas menjelaskan bahwa suami boleh mengambil harta istri jika disertai kerelaan hati. Dan kerelaan hati itu lebih dari sebatas izin. Karena terkadang ada wanita yang dia menghibahkan atau menghadiahkan hartanya atau semacamnya, disebabkan tekanan suami kepadanya. Sehingga diberikan tanpa kerelaan. Disimpulkan dari sini, bahwa yang menjadi acuan tentang halalnya harta istri adalah adanya kerelaan hati
.
Jika harta mahar, yang itu asalnya dari suami diberikan kepada istrinya, tidak boleh dinikmati suami kecuali atas kerelaan hati sang istri, maka harta lainnya yang murni dimiliki istri, seperti penghasilan istri atau warisan milik istri dari orang tuanya, tentu tidak boleh dinikmati oleh suaminya kecuali atas kerelaan istri juga. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: konsultasisyariah.com
“Sedekahkan seluruh persendian kita dengan Sholat Dhuha”

“Sedekahkan seluruh persendian kita dengan Sholat Dhuha”

Setiap orang pasti senang untuk melakukan amalan sedekah. Bahkan kita pun diperintahkan setiap harinya untuk bersedekah dengan seluruh persendian. Ternyata ada suatu amalan yang bisa menggantikan amalan sedekah tersebut yaitu shalat dhuha.
.
Di antara keutamaannya, shalat Dhuha dapat menggantikah kewajiban sedekah seluruh persendian. Dari Abu Dzar, Nabi SAW bersabda: “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim)
.
Persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi SAW: Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim)
.
Kapan waktu pelaksanaan sholat dhuha?
1. Awal waktu yaitu setelah matahari terbit dan meninggi hingga setinggi tombak
Nabi SAW bersabda: “Kerjakan shalat shubuh kemudian tinggalkan shalat hingga matahari terbit, sampai matahari meninggi. Ketika matahari terbit, ia terbit di antara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud.” (HR. Muslim)
Kapan? Kira-kira 15 menit setelah matahari terbit.
2. Waktu terbaik yaitu dikerjakan di akhir waktu
Sedangkan waktu utama mengerjakan shalat Dhuha adalah di akhir waktu, yaitu keadaan yang semakin panas. Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang melaksanakan shalat Dhuha, lantas ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Waktu terbaik) shalat awwabin (shalat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim) Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://rumaysho.com

Bacakan Do’a Ini Pada Bagian Tubuh Yang Sakit

Bacakan Do’a Ini Pada Bagian Tubuh Yang Sakit

Ini adalah salah satu do’a yang bisa diamalkan ketika anggota tubuh ada yang sakit. Ini termasuk bacaan ruqyah sederhana, bisa diamalkan oleh penderita sakit itu sendiri. Misal, sakit gigi, tangan keseleo, atau kaki yang keseleo.

 
Pegang bagian tubuh yang sakit lalu membaca ….
بِاسْمِ اللَّهِ (3×)
أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)

“Bismillah (3 x)
A’udzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7 x)”
 
[Dengan menyebut nama Allah, dengan menyebut nama Allah, aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari kejelekan yang aku dapatkan dan aku waspadai] (HR. Muslim no. 2202)
 
‘Utsman bin Abu Al-Asy’ash Ats-Tsaqafi mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sesuatu yang sakit di tubuhnya sejak dahulu ia masuk Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a di atas, sambil memerintah dengan meletakkan tangan di bagian yang sakit pada badannya.
 
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa disunnahkan meletakkan tangan di bagian yang sakit lalu membaca do’a sebagaimana yang disebutkan. (Syarh Shahih Muslim, 14: 169)
 
Semoga mudah mengamalkannya. Wallahu waliyyut taufiq.
 
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber : https://rumaysho.com
 
 
“Macam macam Air dan Hukumnya untuk Bersuci”

“Macam macam Air dan Hukumnya untuk Bersuci”

Air menjadi sesuatu yang penting sebagai sarana utama dalam bersuci, baik bersuci dari hadas maupun dari najis. Dengannya seorang Muslim bisa melaksanakan berbagai ibadah secara sah karena telah bersih dari hadas dan najis yang dihasilkan dengan menggunakan air.
.
Di dalam madzhab Imam Syafi’i para ulama membagi air menjadi 4 (empat) kategori masing-masing beserta hukum penggunaannya dalam bersuci. Keempat kategori itu adalah air suci dan menyucikan, air musyammas, air suci namun tidak menyucikan, dan air mutanajis.
.
Di dalam kajian fiqih air yang volumenya tidak mencapai dua qullah disebut dengan air sedikit. Sedangkan air yang volumenya mencapai dua qullah atau lebih disebut air banyak. Para ulama madzhab Syafi’I menyatakan bahwa air dianggap mencapai 2 qullah apabila volumenya kurang lebih 192.857 liter.
.
1. Air Suci dan Menyucikan (Air Mutlak)
Menurut Ibnu Qasim Al-Ghazi ada 7 macam air yang termasuk dalam kategori ini. Beliau mengatakan: “Air yang dapat digunakan untuk bersuci ada tujuh macam, yakni air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, dan air salju, dan air dari hasil hujan es“ Secara ringkas air mutlak adalah air yang turun dari langit atau yang bersumber dari bumi dengan sifat asli penciptaannya.
2. Air Musyamas
Air musyammas adalah air yang dipanaskan di bawah terik sinar matahari dengan menggunakan wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak, seperti besi atau tembaga. Air ini hukumnya suci dan menyucikan, hanya saja makruh bila dipakai untuk bersuci. Namun tak mengapa bila dipakai untuk mencuci pakaian atau lainnya. Meski demikian air ini tidak lagi makruh dipakai bersuci apabila telah dingin kembali.
3. Air suci namun Tidak Mensucikan
Air ini dzatnya suci namun tidak bisa dipakai untuk bersuci, baik untuk bersuci dari hadas maupun dari najis. Ada dua macam air yang suci namun tidak bisa digunakan untuk bersuci, yakni air musta’mal dan air mutaghayar.
.
Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci baik untuk menghilangkan hadas seperti wudlu dan mandi ataupun untuk menghilangkan najis bila air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah volumenya setelah terpisah dari air yang terserap oleh barang yang dibasuh. Air musta’mal ini tidak bisa digunakan untuk bersuci apabila tidak mencapai dua qullah. Sedangkan bila volume air tersebut mencapai dua qullah maka tidak disebut sebagai air musta’mal dan bisa digunakan untuk bersuci.
.
Adapun air mutaghayar adalah air yang mengalami perubahan salah satu sifatnya disebabkan tercampur dengan barang suci yang lain dengan perubahan yang menghilangkan kemutlakan nama air tersebut. Sebagai contoh air mata air yang masih asli ia disebut air mutlak dengan nama air mata air. Ketika air ini dicampur dengan teh sehingga terjadi perubahan pada sifat-sifatnya maka orang akan mengatakan air itu sebagai air teh. Perubahan nama inilah yang menjadikan air mata air kehilangan kemutlakannya.
4. Air Mutanajis
Air mutanajis adalah air yang terkena barang najis yang volumenya kurang dari dua qullah atau volumenya mencapai dua qullah atau lebih namun berubah salah satu sifatnya warna, bau, atau rasa karena terkena najis tersebut. Air sedikit apabila terkena najis maka secara otomatis air tersebut menjadi mutanajis meskipun tidak ada sifatnya yang berubah. Air mutanajis ini tidak bisa digunakan untuk bersuci, karena dzatnya air itu sendiri tidak suci sehingga tidak bisa dipakai untuk menyucikan.Wallahu a’lam
.
Salam Hangat, Fayda Tema
Sumber: http://www.nu.or.id

“Trik Selamat Dari Fitnah Dajjal”

Anas bin Malik menyampaikan pesan dari Nabi saw “Tidaklah diutus seorang nabi, melainkan dia mengingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, sang pendusta. Ketahuilah Dajjal itu buta sebelah dan Tuhan kalian tidak buta sebelah. Diantara dua matanya tertulis: Kafir” (HR. Bukhari)
.
Pengetahuan tentang terlindungi dari fitnah Dajjal, sangatlah penting. Karena, kita semua menyadari bahwa saat ini kita hidup di akhir zaman. Sudah sekian banyak tanda kiamat telah terbukti bermunculan, seperti maraknya pembunuhan dan perzinahan, dan lain sebagainnya
.
Apasaja trik selamat dari Dajjal?
1. Menjauh dari keberadaan Dajjal
“Siapa yang mendengar keberadaan Dajjal,‏‎ hendaknya dia menjauh darinya. Sungguh demi Allah! Ada seorang mendatanginya dalam keadaan dia mengira bahwasanya dia itu beriman, namun pada akhirnya dia malah menjadi pengikutnya, disebabkan syubhat-syubhat yang dia sampaikan.” (HR. Ahmad).
Sungguh orang-orang saat Dajjal keluar nanti akan melarikan diri menghindar darinya, sampai ke gunung-gunung.” (HR. Muslim)
2. Kenali Dajjal
Kenalilah Dajjal itu matanya buta sebelah, sementara Tuhan kalian tidak buta sebelah. Diantara dua matanya tertulis :
كَافِرٌ
(Kafir). ” (HR. Bukhari).
Matanya yang buta itu bagaikan anggur yang menonjol.
“Sesungguhnya dia adalah seorang pemuda, rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, seolah-olah aku sedang menyerupakannya dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Quthn.” (HR. Muslim).
3. Lafalkan sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi
Siapa diantara kalian yang menjumpainya, maka bacalah dihadapannya pembukaan surat Al-Kahfi (HR. Muslim).
Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari fitnah Dajjal. (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban).
4. Rutinkan membaca doa selesai tasyahhud akhir, sebelum salam
Allahumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannam, wamin adzaabil qobri, wamin fitnatil mahya wal mamaati, wa min syarri fitnatil masiihid dajjal.
Artinya: Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari azab Jahannam, siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah Al-Masih Dajjal.
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://konsultasisyariah.com

“Kejarlah Allah, maka dunia akan menghampirimu”

“Kejarlah Allah, maka dunia akan menghampirimu”

Ketika seorang Muslim mengejar pahala demi kebahagiaan di akhirat, maka akan ditambah nikmat dunianya oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah berikut ini. “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
.
Walaupun kesadaran dan keyakinan kita mengenai hidup di dunia yang berlaku sementara sedangkan hidup di akhirat adalah kehidupan yang abadi dan kekal, tak lantas membuat kita sadar sepenuhnya. Lihatlah dan perhatikanlah betapa banyak orang yang mengabaikan akhirat, mereka sibuk dan asyik dengan dunia, seolah merasa bahwa akan tinggal selamanya di dunia yang fana ini. Mereka lupa bahwa mereka sedang berjalan menuju akhirat.
.
Hidup merdeka di akhirat kelak, sangat ditentukan oleh kualitas hidup kita di dunia. Kualitas baik atau buruknya kita menjalani hidup di dunia, menentukan sukses atau gagalnya kita hidup di akhirat. Sukses hidup di akhirat artinya masuk surga, sedangkan gagal hidup di akhirat artinya masuk neraka. Ibarat menabung di usia muda, maka akan menentukan kehidupan kita di masa tua. Kembali lagi bahwa semuanya tergantung pilihan seorang mukmin dalam menjalani hidup yang menjadi haknya, karena sejatinya hidup itu pilihan.
.
Rasulullah SAW bersabda, Perbandingan dunia dengan akhirat, seperti seseorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut, lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.” (HR. Muslim). Di sini Rasulullah saw ingin menegaskan betapa luar biasanya perbandingan akhirat dengan dunia. Dunia hanya sekedar sisa air yang tertinggal di jari sewaktu dicelupkan dan diangkat darinya, sedangkan laut yang luas itu ibarat akhirat yang kekal dan abadi.
.
Bagaimanakah cara mengutamakan akhirat dari hidup kita didunia?
1. Luruskan niat hanya mencari ridho Allah
2. Selalu pertimbangkan akhirat jika akan melakukan sesuatu
Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://duniaassalamualaikum.blogspot.com

Larangan Waktu Mandi Menurut Islam

Larangan Waktu Mandi Menurut Islam

Mandi tidak hanya berfungsi membersihkan tubuh dari kotoran, tapi juga menyegarkan badan setelah lelah beraktivitas. Mandi merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim dalam menjaga tubuh agar tetap bersih dan nyaman. Sehingga, ketika beribadah pun dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu.
.
Sayangnya ada sebagian orang yang kurang memahami pentingnya mandi sehingga mereka enggan melakukannya dengan rutin. Dalam hadits yang menyebut “kebersihan sebagian daripada iman”. Yang artinya dengan menjaga kebersihan, sama artinya kita menjaga kesehatan dan juga keimanan.
.
Hukum mandi adalah sebagai berikut :
Wajib, yaitu apabila mengalami hal-hal yang mewajibkan mandi atau bernadzar untuk melakukan mandi sunah.
Sunah, yaitu jika terdapat faktor-faktor yang menyebabkan mandi sunah sebagaimana akan dijelaskan nanti.
.
Mandi adalah cara untuk membersihkan badan sekaligus dapat membuat badan kembali segar, namun ada 3 waktu menurut islam dan medis dimana kita dilarang untuk mandi. Selain memahami pentingnya mandi, ada satu hal lagi yang harus kita perhatikan, yakni waktu mandi. Kenapa demikian? Ternyata ada beberapa waktu dimana kita dilarang mandi, karena dapat berisiko mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Menurut pakar kesehatan, ada tiga waktu yang tidak disarankan untuk mandi. Pada waktu-waktu tersebut, kondisi jantung sedang melemah sehingga beresiko menyebabkan kematian mendadak.
.
Berikut 3 Waktu Yang Dilarang Untuk Mandi:
1. 30 Menit setelah sholat ashar
Pada waktu ini, kondisi darah dalam tubuh sedang panas, sehingga jika kita mandi, maka dapat mengakibatkan rasa lelah dan letih.
2. Setelah magrib
Mandi setelah maghrib juga termasuk dilarang, karena kondisi jantung pada saat itu mulai lemah. Selain itu, mandi pada saat itu juga meningkatkan risiko penyakit paru-paru basah.
3. Sesudah isya hingga jam 12 malam
Sesudah isya’, merupakan waktu dimana jantung kita beristirahat. Mandi pada saat itu akan menyebabkan kerusakan jantung.
.
Nah, jika ada larangan waktu mandi karena dapat meningkatkan risiko penyakit, apakah kita masih mau mengambil risiko tersebut? Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://dalamislam.com
Manfaatkanlah Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Manfaatkanlah Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara” :
1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu
2. Waktu sehat sebelum tuamu
3. Masa kaya sebelum miskinmu
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu
5. Hidupmu sebelum matimu
.
1. Masa muda sebelum tua. Masa muda merupakan masa paling produktif bagi setiap orang. Sehingga kita harus membiasakan diri melakukan amal saleh sedari muda sebab kebiasaan saat muda akan terbawa hingga tua.
.
2. Sehat sebelum sakit. Kesehatan merupakan karunia dan nikmat yang sering kali terlupakan. Nabi pernah mengatakan dalam kesempatan lain bahwa sehat dan waktu adalah dua nikmat yang banyak manusia tertipu. Mereka menyangka bahwa keduanya adalah sesuatu yang sewajarnya, padahal itu nikmat terbaik yang diberikan Allah pada setiap hamba-Nya.
.
3. Luang sebelum sibuk. Waktu luang seorang mukmin adalah waktu malam sebab di siang hari ia akan sibuk mencari rejeki yang dijanjikan Allah. Hal ini mengacu pada sabda Nabi bahwa “Malam itu panjang maka jangan membuatnya pendek (menyianyiakannya) dengan tidurmu dan siang itu terang jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu”
.
4. Kaya sebelum miskin. Jika Allah memberikan karunia berlebih ingatlah itu hanya amanah yang dititipkan kepadamu. Berbagilah karena dalam harta yang kau miliki terdapat hak orang lain yang membutuhkannya demikianlah cara kita bersyukur dengan karunia berlebih yang diberikan-Nya.
.
5. Hidup sebelum mati. Setiap yang hidup pasti akan mati, manusia tidak akan mengetahui kapan ajal akan menjemputnya dan bagaimana caranya. Maka beramallah selagi hidup sebelum datang kematianmu sebab penyesalan setelah ruh tercabut dari tubuh hanyalah sia-sia. Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://bincangsyariah.com
Penggunaan Ungkapan Maasyaa Allah dan Subhaanallah

Penggunaan Ungkapan Maasyaa Allah dan Subhaanallah

Kita pasti pernah mengucapkan Maasyaa Allah dan Subhaanallah, tapi apakah sudah benar ? apakah tidak terbalik ? Berikut akan dijelaskan mengenai penggunaan ungkapan Maasyaa Allah dan Subhaanallah yang tepat sesuai dengan maknanya :
 
1. Maasyaa Allah
Maasyaa Allah artinya itu terjadi atas kehendak Allah.
 
Ungkapan Maasyaa Allah digunakan atau diucapkan jika melihat KEINDAHAN & KEKAGUMAN.
 
Sebagaimana firman Allah :
 
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. “ (QS. Al-Kahfi : 39)
 
Lebih jelasnya terdapat pada tafsir Jalalayn berikut ini :
 
(Mengapa tidak) (kamu katakan sewaktu kamu memasuki kebunmu) sewaktu kamu merasa takjub dengan kebunmu itu, (“Ini adalah apa yang telah dikehendaki oleh Allah; tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah?)” di dalam sebuah hadis telah disebutkan, “Barang siapa yang diberi kebaikan (nikmat), baik berupa istri yang cantik lagi saleh atau pun harta benda yang banyak, lalu ia mengatakan, ‘Maasya Allaah Laa Quwwata Illaa Billaah’ (Ini adalah apa yang dikehendaki oleh Allah, dan tiada kekuatan melainkan berkat pertolongan Allah), niscaya ia tidak akan melihat hal-hal yang tidak disukai akan menimpa kebaikan tersebut. (Jika kamu anggap aku ini) lafal Anaa merupakan dhamir Fashl yang memisahkan antara kedua Maf’u1 (lebih sedikit daripada kamu dalam hal harta dan anak).
 
 
2. Subhaanallah
Subhaanallah artinya maha suci allah.
 
Ungkapan Subhaanallah digunakan atau diucapkan jika melihat KEJAHATAN, KEBURUKAN, & KEMAKSIATAN.
 
Sebagaimana firman Allah :
 
“Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 116)
 
Lebih jelasnya terdapat pada tafsir Jalalayn berikut ini :
 
(Dan mereka berkata) dengan wau atau tanpa wau, maksudnya orang-orang Yahudi dan Kristen serta orang-orang yang mengakui bahwa malaikat-malaikat itu anak-anak perempuan Allah, (‘Allah mempunyai anak.’) Allah berfirman, (“Maha Suci Dia) menyucikan-Nya dari pernyataan tersebut, (bahkan apa-apa yang ada di langit dan di bumi kepunyaan-Nya belaka) baik sebagai hak milik, sebagai makhluk, maupun sebagai hamba. Pemilikan itu bertentangan dengan pengambilan atau mempunyai anak. Di sini dipakai ‘maa’ artinya ‘apa-apa untuk yang tidak berakal’ karena ‘taghlib’, artinya untuk mengambil yang lebih banyak. (semua tunduk kepada-Nya.”) Artinya menaatinya, masing-masing sesuai dengan tujuan diciptakan-Nya. Di sini lebih ditekankan kepada makhluk yang berakal.
 
Salam Hangat, Fayda Team
 
Sumber : https://tafsirq.com
“Tanda Amalan Puasa Ramadhan di Terima”

“Tanda Amalan Puasa Ramadhan di Terima”

Meskipun banyak amalan di bulan Ramadhan yang telah kita lakukan, namun pada kenyataannya tidak semua amalan kita diterima. Lalu bagaimana mengetahui amalan kita diterima atau tidak? Berikut adalah beberapa tanda amalan bulan Ramadhan diterima:
1. Terbiasa Shalat Malam
Ath-Thibi berkata: “Demi hidupku, sungguh, seandainya tidak ada keutamaan dalam melakukan shalat Tahajjud selain pada firman Allah:
“Dan pada sebagian malam hari bershalat ta-hajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengang-katmu ke tempat yang terpuji.” [Al-Israa’: 79]
2. Terbiasa berkata baik
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Al-Bukhari dan Muslim)
3. Lebih mudah bersyukur
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. [Al-Baqarah:152]
Dan (ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. [Ibrâhîm:7]
4. Lebih suka berkumpul dengan orang sholeh
Allah SWT Berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” [At-Taubah:119]
5. Lebih sabar menghadapi cobaan
Allâh Azza wa Jalla berfirman : Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar. [Al-Anfâl: 46]
6. Selalu takut pada Allah
Allah Berfirman: “Sesungguhnya orang beriman itu hanyalah mereka yang disebut nama Allah bergetar hatinya, jika dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya ayat itu membuat iman mereka makin bertambah, dan hanya Kepada Rabb mereka bertawakkal. Yaitu orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian (harta) yang Kami rezkikan kepada mereka. Mereka itulah orang beriman yang hakiki, dan mereka akan memperoleh kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Tuhan mereka, ampunan, serta rezki yang mulia” (Al-Anfal : 2-4). Wallahu’alam
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://dalamislam.com