Penggunaan Ungkapan Maasyaa Allah dan Subhaanallah

Penggunaan Ungkapan Maasyaa Allah dan Subhaanallah

Kita pasti pernah mengucapkan Maasyaa Allah dan Subhaanallah, tapi apakah sudah benar ? apakah tidak terbalik ? Berikut akan dijelaskan mengenai penggunaan ungkapan Maasyaa Allah dan Subhaanallah yang tepat sesuai dengan maknanya :
 
1. Maasyaa Allah
Maasyaa Allah artinya itu terjadi atas kehendak Allah.
 
Ungkapan Maasyaa Allah digunakan atau diucapkan jika melihat KEINDAHAN & KEKAGUMAN.
 
Sebagaimana firman Allah :
 
“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. “ (QS. Al-Kahfi : 39)
 
Lebih jelasnya terdapat pada tafsir Jalalayn berikut ini :
 
(Mengapa tidak) (kamu katakan sewaktu kamu memasuki kebunmu) sewaktu kamu merasa takjub dengan kebunmu itu, (“Ini adalah apa yang telah dikehendaki oleh Allah; tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah?)” di dalam sebuah hadis telah disebutkan, “Barang siapa yang diberi kebaikan (nikmat), baik berupa istri yang cantik lagi saleh atau pun harta benda yang banyak, lalu ia mengatakan, ‘Maasya Allaah Laa Quwwata Illaa Billaah’ (Ini adalah apa yang dikehendaki oleh Allah, dan tiada kekuatan melainkan berkat pertolongan Allah), niscaya ia tidak akan melihat hal-hal yang tidak disukai akan menimpa kebaikan tersebut. (Jika kamu anggap aku ini) lafal Anaa merupakan dhamir Fashl yang memisahkan antara kedua Maf’u1 (lebih sedikit daripada kamu dalam hal harta dan anak).
 
 
2. Subhaanallah
Subhaanallah artinya maha suci allah.
 
Ungkapan Subhaanallah digunakan atau diucapkan jika melihat KEJAHATAN, KEBURUKAN, & KEMAKSIATAN.
 
Sebagaimana firman Allah :
 
“Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 116)
 
Lebih jelasnya terdapat pada tafsir Jalalayn berikut ini :
 
(Dan mereka berkata) dengan wau atau tanpa wau, maksudnya orang-orang Yahudi dan Kristen serta orang-orang yang mengakui bahwa malaikat-malaikat itu anak-anak perempuan Allah, (‘Allah mempunyai anak.’) Allah berfirman, (“Maha Suci Dia) menyucikan-Nya dari pernyataan tersebut, (bahkan apa-apa yang ada di langit dan di bumi kepunyaan-Nya belaka) baik sebagai hak milik, sebagai makhluk, maupun sebagai hamba. Pemilikan itu bertentangan dengan pengambilan atau mempunyai anak. Di sini dipakai ‘maa’ artinya ‘apa-apa untuk yang tidak berakal’ karena ‘taghlib’, artinya untuk mengambil yang lebih banyak. (semua tunduk kepada-Nya.”) Artinya menaatinya, masing-masing sesuai dengan tujuan diciptakan-Nya. Di sini lebih ditekankan kepada makhluk yang berakal.
 
Salam Hangat, Fayda Team
 
Sumber : https://tafsirq.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *