“Titik Hitam Pada Hati”

Hati manusia akan selalu menemui fitnah dan cobaan, imtihan,dan ibtila. Hati yang buruk akan mudah menerima keburukan sedang hati yang sehat akan berusaha kuat untuk menolaknya.
.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Fitnah-fitnah itu akan dihadapkan kepada hati, seperti tikar, satu serat satu serat. Hati mana saja yang menyerap fitnah itu, maka satu noda hitam tertempel dalam hatinya. Dan hati mana saja yang tidak menerimanya, akan tertitiklah pada hati itu satu titik putih, sehingga, jadilah hati itu dua macam; putih seperti batu pualam, sehingga fitnah apapun tidak akan membahayakannya selama ada langit dan bumi, sementara hati lainnya berwarna hitam legam, seperti teko atau ceret terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemunkaran selain hawa nafsu yang diserapnya. [HR Muslim]
.
Maka perhatikanlah hati kita, karena ialah sumber keimanan dan cahaya yang menerangi jalan kehidupan kita sehingga tidak mudah terperosok dalam lembah dosa. Menjadi hati yang selamat itu harapan kita meski terkadang jalan – Jalan dosa selalu melambaikannya, pada kiamat semua manusia akan menyesal kecuali datang menghadap Allâh dengan hati yang selamat. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : (Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih,hati yang selamat. [As-Syu’ara’/26:88-89]
.
Tidak bosan-bosannya hati yg rusak terus bermaksiat kepada Allah, detik demi detik, menit demi menit di saat pergantian malam dan siang. Padahal pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.
.
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”
( HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi )
.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.”
.
Bagaimana cara menjaga hati menurut islam? Berikut kami rangkum penjelasannya:
1. Memperbanyak Dzikir
Cara menjaga hati menurut islam yang pertama adalah dengan memperbanyak dzikir. Berdizikir merupakan salah satu ibadah untuk mengingat dan mendekatkan diri dengan Allah Ta’ala. Kita harus berusaha untuk senantiasa berdzikir di tengah-tegah kesibukan, sesudah solat dan sebelum tidur. Semakin sering dzikir diucapkan (baik lisan maupun dalam hati) maka insyaa Allah hati akan terjaga dan terasa semakin tenang.
Allah Subhanallah Ta’ala berfirman:
“Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (Thaa-Haa: 130).
2. Sholat
Cara kedua untuk menjaga hati ialah dengan sholat. Memenuhi sholat wajib dan menambahkan sholat sunnah. Yang terpenting, jangan menjadikan sholat sebagai beban. Jika kita bisa melakukan sholat dengan khusyuk, benar-benar menghayahati bahwa kita sedang berbicara dengan Allah, sungguh maka kita akan merasakan betapa nikmatnya sholat. Apakah ada yang lebih indah daripada berbicara dengan Sang Maha Penyayang? Walaupun kita tak bisa melihat Allah, tapi Allah bisa melihat kita. Kita juga bisa memanjaatkan doa disaat sujud. InsyaAllah doa akan mudah dikabulkan.
3. Bersyukur sesering mungkin
Bersyukur juga menjadi salah satu cara menjaga hati menurut islam. Seseorang yang cenderung kufur nikmat biasanya hatinya tidak akan tentram. Mudah iri dengan kenikmatan orang lain dan selalu merasa dirinya kurang. Bahkan tak jarang melakukan hal-hal yang dilarang agama guna melimpaskan nafsunya semata. Sebaliknya jika kita mampu bersyukur maka insyaAllah hati akan terasa lapang dan terjaga dari penyakit.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
4. Menjaga ikhlas dan sabar
Kunci agar hati terjaga dari sifat-sifat tercela, seperti kikir, dendam atau dengki adalah dengan menjaga keikhlasan serta kesabaran. Segala musibah yang menimpa diri kita semata-mata hanyalah ujian dari Allah Ta’ala. Baik itu masalah jodoh yang tak kian tiba ataupun lainnya. Maka itu, kita harus bisa ikhlas dan bersabar. Ketahuilah bahwa dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan. Allah sudah menjajikan hal tersebut. Dan sikap sabar dapat membawa kita ke jalan lurus serta terhindar dari kemungkaran.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
5. Mengendalikan amarah
Saat ingin marah selalu ucapkan istighfar. Sebisa mungkin cobalah menahan amarah. Marah adalah perbuatan tercela yang bisa mengotori hati dan menyakiti orang lain. Oleh sebab itu, kendalikan marah dengan memperbanyak ibadah kepada Allah Ta’ala dan ingatlah akan kematian.
.
Jika bintik, noda dan noktah hitam itu sudah penuh dan menutupi hatinya, maka noktah hitam yang datang berikutnya ke dalam hati akibat dari perbuatan dossa dan kemaksiatan, maka hati itu akan merasa tidak terpengaruh dengan noda yang mengotorinya, sebagaimana tidak terlihatnya noda hitam yang menempel pada kain hitam. Saat perbuatan dosa sudah tidak terasa lagi sebagai sebuah dosa, maka yang ada adalah rasa nyaman –Astagfirullah….
.
Semoga Allah mengampuni dosa dan kelalaian kita…. Dan semoga Allah menjaga hati kita dari keburukan dan bangga dlm perkara dosa. Aamiin…
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber: https://izzatulislam319.wordpress.com dan https://dalamislam.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *