“Masyaa Allah… Ia hanya sedang ingin berbicara mesra tentang kesyukurannya bersuamikan dirimu”

Istri yang selalu nempel saat tidur dia memeluk, saat duduk dia menggenggam, saat berjalan dia menggandeng dan saat jauh dia cepat merindu.
.
Bukan karena istrimu berlebihan pada semua situasi, bukan pula ia sedang menjelaskan kepada dunia bahwa engkau miliknya dan dia milikmu. Tapi cobalah perhatikan, saat dia memilih bahumu ketika hendak ingin tidur, bukan karena bantalnya yang kurang nyaman, tapi mungkin ia ingin merasakan bersandar diatas bahu yang telah banyak memikul amanah tentangnya.
.
Itu kesyukurannya tentang tanggung jawabmu. Coba perhatikan, saat dia memilih menggenggam dan menggandeng tanganmu ketika duduk dan berjalan, bukan karena ia tidak nyaman berada diantara yang lainnya. Tetapi dia ingin saat dia berbicara dan berjalanpun selalu berada dalam penjagaanmu.
.
Tersebab Syaitan menghiasi langkah kakinya dan ketika berbicarapun lisannya kadang tak terjaga. Itu keyakinannya, bahwa kau mampu menghindarkannya dari seburuk-buruknya fitnah.
.
Ketika dia juga terlalu cepat merindu, saat baru sebentar saja kau tidak dengannya. Bukan karena ia tak bisa jauh. Tapi dirimu menjadi satu-satunya tempat ia bercerita, menghabiskan waktu untuk meluapkan kekesalan, dan suka dukanya. Itulah cara dia menjaga aib-aibmu dan juga aibnya agar tidak tercerita kepada mereka yang tidak amanah dalam menjaga rahasia.
.
Duhai suami, sebenarnya istrimu bukan terlalu menempel, ia hanya sedang ingin berbicara mesra tentang kesyukurannya bersuamikan dirimu. Tapi terkadang ia tidak tahu bagaimana caranya. Nikmati, biarkan, karena kelak masa tua dan usia jualah yang kan menjadi pemisah antara sikapnya terhadapmu dan sikapmu terhadapnya.
.
“Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka wanita yang shalihah, adalah yang tunduk dan taat (qanitat) serta mampu menjaga (hafizhat) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (QS. An-Nisa’:34)
.
Kebahagiaan keluarga akan semakin lengkap bilamana seorang suami memberikan kasih sayang kepada istrinya, menghargai, tidak membentak-bentak, dan menafkahi secara ikhlas. Begitupun dengan seorang istri, ia juga harus memberikan cinta tulus kepada suami dan anak-anaknya. Serta tak lupa menjalankan perintah agama dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW agar kelak kehidupan rumah tangga memperoleh rahmat dari Allah SWT.
.
Salam Hangat, fayda Team
Sumber: https://www.instagram.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *