“Zikir yang ringan di lisan, namun berat di timbangan amalan”

Adakah zikir yang ringan di lisan, namun berat di timbangan amalan?
Ada. Zikir tersebut adalah bacaan Subhanallahi Wa Bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim. Keutamaannya disebutkan dalam hadis berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi SAW bersabda :

“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman. Ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan), yaitu Subhanallahi Wa Bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” [HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694]
.
Kapan Dzikiri Ini Dibaca?
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: ” Barangsiapa membaca tatkala pagi dan sore Subhanallah wa bihamdihi 100kali maka tidaklah datang seseorang pada hari kiamat dengan amalan yang lebih utama daripada bacaan ini kecuali seseorang yang mengucapkan yang serupa atau lebih banyak lagi.” (HR. Muslim no.2692, Abu Dawud 5091)
.
Keutamaan Dzikir Ini
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: ” Dua kata yang ringan di lidah, berat dalam mizan (timbangan amal hari kiamat), disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Subhanallahi wa bihamdihi , Subhanallahil ‘adhim. (Shahih Bukhari :6406)
Dari Jabir radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: ” Barangsiapa yang mengucapkan Subhanallahil ‘adhim wa bihamdihi maka ditanamkan baginya kurma di surga”. (Hasan Shahih, Sunan Tirmidzi:3464)
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan: ” Barangsiapa yang membaca Subhanallahi wa bihamdihi dalam sehari 100 kali maka diampuni dosanya sekalipun seperti buih dilautan”. (Muslim:6842)
.
Dari Sulaimana bin Yasar dari seorang laki-laki Anshor bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:” Berkata Nabi Nuh ‘alaihissallam kepada anaknya: ‘ Aku wasiatkan kepadamu dengan suatu wasiat yang aku ringkas agar engkau tidak melupakannya. Aku wasiatkan dengan dua hal dan aku larang dari dua hal’. Kemudian beliau menyebutkan diantara wasiatanya, ” Dan aku wasiatkan dengan Subhanallahi wa bihamdihi karena ia adalah do’anya para makhluk dan dengan dua kata itu makhluk diberikan rezeki.
.
Dan tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Isra'(17):44 ). ( HR. an-Nasai dan al-Bazzar, lihat Shahih Targhib wa Tarhib:1543)
.
Salam Hangat, Fayda Team
Sumber : https://arman271197.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *