60 Tahun Shalat Tapi Tidak Diterima Karena 2 Hal ini

Di antara kesalahan besar yang terjadi pada sebagian orang yang shalat: tidak tuma’ninah ketika shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai pencuri yang paling buruk, sebagaimana disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, “Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari sholat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku dan sujudnya” (HR Ahmad no 11532, dishahihkan oleh al Albani dalam Shahihul Jami’ 986)

Tuma’ninah ketika mengerjakan shalat adalah bagian dari rukun shalat, shalat tidak sah kalau tidak tuma’ninah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jika kamu hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tuma’ninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud dengan tuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tuma’ninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu”. (HR Bukhari 757 dan Muslim 397 dari sahabat Abu Hurairah)

Sungguh mengerikan jika kita rajin melaksanakan sholat, namun tidak memperhatikan rukun-rukunnya dengan baik, dari mulai berwudhu, takbiratul ihram hingga salam.

‘’Sesungguhnya (ada) seseorang yang sholat selama 60 tahun, namun tidak ada satu sholat pun yang diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud, namun tidak menyempurnakan ruku’nya.’’ (Hadits Hasan Riwayat Al-Ashbahani dalam At-Targhib, lihat Ash-Shahihah no. 2535)

Sebab yang menjadikan sholat seseorang selama 60 tahun tidak ada yang diterima satu pun sebagaimana yang disebutkan hadits di atas adalah karena tidak tuma’ninah dalam ruku dan sujud. Tak heran jika sholat yang kita lakukan bisa tak bernilai pahala melainkan hanya sepersepuluh, sepersembilan, atau paling besar hanya setengahnya saja.

‘’Sesungguhnya seseorang benar-benar selesai (dari sholat) namun tidak dituliskan (pahala) baginya melainkan hanya sepersepuluh dari sholatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.’’ (Hadits shohih riwayat Imam Abu Daud)

Padahal, amalan yang paling pertama dihitung kelak di akhirat adalah shalat. Jika shalatnya baik, inshaa Allah amalan dan ibadah lainnya akan Allah terima, namun jika sholat saja sudah buruk, maka amat mungkin amalan lainnya tidak diperhitungkan, naudzubillah.

‘’Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan dimintai pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.’’(HR. Tirmidzi)

Maka, marilah kita senantiasa memperbaiki amalan shalat kita, agar Allah melihat bahwasannya shalat yang kita lakukan tidak hanya sekadar gerakan tanpa jiwa, melainkan juga kita hadirkan hati kita ke hadapan-Nya.

Sebarkan tulisan ini sebanyak-banyaknya, mudah-mudahan bisa menjadi amal jariyah.

 

Salam Hangat, MyHayra Team

Sumber : http://www.kabarmakkah.com

http://www.reportaseterkini.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *